Yaumul Arafah dan Cerita dari Masjid ke Masjid

Dua hari sebelum Hari Arafah (9 Dzulhijjah) yang tahun jatuh pada Selasa, 26 Mei 2026, ibunya maha mengingatkan saya untuk berpuasa. Saat itu, ia sudah mulai berpuasa. Ia menyarankan saya untuk mulai berpuasa pada hari Senin (8 Dzulhijjah) yang biasa disebut sebagai Hari Tarwiyah.

Seingatku, baru tahun ini saya cukup ngulik apa hikmah puasa sebelum 10 Dzulhijjah, khususnya puasa Arafah. Saat menjalankan puasa Tarwiyah pada Senin kemarin, saya mencari banyak referensi hikmah puasa Arafah dan amalan serta doa apa saja yang diutamakan. Seperti biasa, bahkan ketika baru diniatkan dalam hati, dalam sesaat konten-konten terkait puasa Arafah memenuhi timeline Instagram. Beberapa saya simpan di WA agar mudah saya buka saat dibutuhkan. Selain doa utama seperti Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syarika lahu. Lahul mulku walahul hamdu wa laa ilaaha illallahu wallahu akbar, doa sapu jagat robbana atina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah dan seterusnya, saya juga menyimpan doa berbahasa Indonesia yang lafalnya menurutku menyentuh dan cukup detail. Menurut riwayat, di Hari Arafah kamu dipersilakan berdoa dan meminta apa saja. Bahkan yang paling mustahil sekalipun.

Dari beberapa referensi yang saya baca, selama puasa Arafah sebaiknya kita meninggalkan rutinitas dan fokus untuk berzikir dan berdoa. Karena itu, Selasa kemarin saya bertekad untuk menjauh dari laptop sementara dan mencari tempat yang bisa saya fokuskan untuk ibadah. Dan berpuasa tentunya. Namanya juga usaha toh!

Bermula dari Masjid Kampus UGM

Menjelang pukul 11, saya bermotor menuju masjid kampus UGM. Kurang lebih setengah jam saya tiba di parkiran barat masjid. Lalu masuk ke masjid dari arah selatan. Di dalam masjid, ada puluhan jamaah yang nampaknya mayoritas mahasiswa yang sepertinya sedang fokus beribadah. Ada juga yang beraktivitas dengan laptop. Setelah berwudhu, saya mengambil tempat di salah satu pilar agar bisa duduk sambil bersandar. Maklum sudah jompo hehe. Sampai menjelang zuhur, berusaha memanfaatkan waktu untuk berzikir, melanjutkan bacaan Al-Qur’an dari ponsel dan memanjatkan doa-doa utama Hari Arafah.

Saat waktu dzuhur tiba, saya kembali mengambil air wudu di tempat wudu utama yang terletak di selatan masjid. Setelah salat Zuhur, saya kembali menundukkan diri memanjatkan zikir, doa dan meminta ampunan. Doa-doa panjang berbahasa Indonesia yang saya simpan di ponsel, saya panjatkan dengan haru. Tak sadar, mata mulai ingin diistirahatkan. Saya lalu mengambil posisi untuk tidur sebentar setelah melihat beberapa jamaan lain juga mengambil posisi serupa. Totebag Bukuakik yang berisi sweater saya jadikan sebagai bantal. Lumayan nyaman. 

Menjelang pukul setengah dua siang, saya terjaga. Beberapa saat kemudian, saya beranjak keluar dari masjid dan menuju parkiran motor dan bersiap menuju tujuan berikutnya, Masjid Jogokariyan yang terletak di selatan Jogja. Karena tidak yakin dengan arahnya, meski berkali-kali saya memastikan dari map, akhirnya saya mesti mengandalkan instruksi arah Google Maps. Setelah handsfree terpasang, saya lalu keluar dari area masjid dan mengikuti arah yang diberikan.

Akhirnya Masjid Jogokariyan

Instruksi dari google map mengarahkan saya ke arah stasiun lempuyangan. Mulai dari situ, jujur saya belum punya bayangan dimana jalan ini akan membawa saya. Nanti ketika berada di Jalan Katamso kemudian nemu lampu merah di ujung jalan itu, ingatan saya lalu terbawa ke masa S2 dulu. Saya sering melalui jalur ini bersama Sawing. Dari lampu merah itu, kemudian belok kiri menuju Jalan Parangtritis. Dan beberapa saat kemudian, saya diarahkan untuk belok kiri ke kampung Jogokariyan. Sebelum masuk gerbang kampung tersebut, ada pom bensin di kiri jalan. Seingatku, beberapa bulan lalu, saat komrad dan anak-anak berlibur di Jogja, kami sempat mampir buang air kecil di toilet pom bensin tersebut setelah mengunjungi ISI Jogja.

Masjid Jogokariyan yang terkenal itu terletak 300 meter kiri jalan dari gerbang. Saya tiba di sana sekitar jam 2 lewat. Motor saya parkir di samping atm BSI yang terletak tepat di depan kantor masjid. Sebelum masuk masjid, saya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Saya cukup kaget karena masjid ini ternyata tidak sebesar yang saya pikirkan. Dari tempat parkir, di depannya ada area halaman masjid yang biasa digunakan untuk aktivitas masjid bersama warga. Saat itu, ada beberapa gantungan besi yang sepertinya untuk persiapan kurban. 

Saya lalu mengambil wudu dan masuk ke area masjid untuk memulai zikir, bacaan Al-Qur’an, dan doa yang tak henti-henti. Menjelang asar, jamaah mulai berdatangan memenuhi masjid hingga ke area luar. Setelah asar, mayoritas jamaah pulang dan beberapa, termasuk saya, tetap tinggal menunggu waktu berbuka yang jatuh pada pukul 17.30 WIB.

Menjelang sejam waktu berbuka, beberapa jamaah kembali memenuhi area dalam masjid. Pengurus masjid mengumumkan bahwa hari itu ada buka bersama yang akan dimulai dengan pengajian. Tepat pukul 16.45, pengajian dimulai oleh seorang ustaz yang duduk di kursi yang diletakkan di bagian depan area masjid. Setelah laptop dinyalakan, sang ustaz mulai menyampaikan tausiahnya. Ia mulai dengan kisah ketika Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan Ismail di gurun pasir yang tandus dan bagaimana ketaatan Siti Hajar setelah mengetahui bahwa kepergian Nabi Ibrahim merupakan bagian dari perintah Tuhan.

Mendekati waktu berbuka, saya melihat hidangan mulai dibagikan 
di area luar yang diisi jamaah laki-laki, di halaman, dan di sisi kiri masjid yang diisi jamaah perempuan. Setelah waktu berbuka tiba, saya menuju area luar masjid dan mengambil menu buka yang dibagikan oleh ibu pengurus masjid. Saya lalu mencari tempat kosong untuk menikmati hidangan berbuka. Menunya nasi pecel telur beserta kerupuk plus teh hangat. Sungguh nikmat. Meski jamaah cukup banyak, tidak ada kegaduhan yang berarti. Semuanya tertata rapi. Wajar saja, pikirku. Mereka sudah terbiasa menggelar acara buka puasa bersama, bahkan dengan jamaah yang lebih banyak saat Ramadan. Suasana buka puasa sangat syahdu. Saya merasa seperti buka puasa di kampung sendiri. Dalam hati saya berujar, “Ah, akhirnya bisa juga merasakan buka bersama di masjid ini.”

Setelah usai salat Magrib, saya kembali pulang. Menyusuri jalan menuju Kaliurang. Kali ini tanpa bantuan Google Maps. Di sepanjang jalan, saya berdoa semoga berkah Yaumul Arafah membuat doa-doa dan harapan diijabah. Serta semoga tekad untuk beribadah tak henti di sini. Aamiin.

Zulkhair Burhan

28 Mei 2026

Gang Pancawala, Ngaglik, YK.

Komentar

Postingan Populer