Berjumpa Promotor dan Ajakan Kembali ke HI
Sejak bulan berganti ke April, saya sudah mulai agak sedikit panik karena proposal yang saya gadang-gadang akan kerjakan selama di Makassar, seperti yang saya prediksi bisa dibilang nol besar. Kalaupun ada kemajuan, itu hanya serupa imaji yang saya bangun di kepala untuk menyenangkan hati dan sekaligus membenarkan aktivitas leha-leha sejak berakhirnya semester satu akhir tahun lalu.
Yang agak bikin panik sebenarnya karena saya belum pernah sama sekali berjumpa promotor. Padahal keputusan untuk lanjut atau tidak dengan ide yang mulai saya garap sejak awal tahun soal artivisme dan politik kewargaan separuhnya akan sangat bergantung dari pertimbangan promotor dan co promotor saya.
Karena itu sejak awal April, saya mulai mewacanakan ke komrad soal rencana balik ke Jogja. Rencana ini semakin kuat saat Mbak Ocha, mulai bertanya via grup WA angkatan kami soal perkembangan proses bimbingan. Saat itu saya lalu mengabari Mbak Ocha kalau saya sama sekali belum pernah bimbingan dan meminta alamat email Mbak Linda dan mas Randy yang disepakati oleh Prodi menjadi Promotor dan Co Promotor saya. Di kepala saya saat itu, minimal saya sudah punya alamat email beliau berdua, jadi kalau draft proposal ada progres, saya bisa langsung mengirimkannya biar diberi pertimbangan. Tapi waktu berjalan dan tak ada progres.
Saya lupa kapan tepatnya, akhirnya draft proposal ala kadarnya, tepatnya sangat ala kadarnya saya kirim ke email beliau berdua. Dan menunggu respon. Setelah beberapa waktu lalu akhirnya Mas randy duluan memberi respon. Singkatnya, dia mau saya bertemu langsung dengan beliau bersama Mbak Linda dan membahas soal rencana riset saya. Respon Mas Randy itu semakin membulatkan tekad saya untuk segera balik ke Jogja. Meski selalu susah meninggalkan kehangatan keluarga.
Saya sebenarnya sudah menjadwalkan akan balik ke Jogja di pekan ketiga April tapi tiba-tiba ada agenda Hearing Session album baru FSTVLST yang sepertinya akan susah berjalan tanpa saya. Akhirnya jadwal saya undur setelahnya. Tepatnya sehari setelah sesi dengar album Paradoks Diametral yang akan kita bahas di tulisan lain semoga.
Sabtu, 25 April pagi saya diantar full team ke bandara. Mestinya saya masih bisa ikut agenda berenang di Grand Mall Water Park Maros bersama anak-anak dan beberapa sepupunya maha karena awalnya jadwal berangkat saya sore malam kalau tak salah ingat. Tapi jumat malam ada kabar dari maskapai jika penerbangan dimajukan pagi hari. Pesawat take off tepat waktu dan bonusnya saya satu pesawat dengan para pemain dan official Maluku United FC dan beberapa diantaranya adalah mantan pemain PSM seperti si kembar Sayuri.
Sebelum tiket sudah di tangan, saya sempat minta tolong ke Mbak Ocha untuk diaturkan agenda pertemuan dengan promotor dan co promotor di hari Senin, 4 Mei. Tak menunggu lama, Mbak Ocha memberi kabar jika Mbak Linda masih ada agenda lain di hari itu. Syukurnya, saat saya sedang berada di Ruangan 414 pada Selasa, Mbak Ocha mengirim pesan kalau kedua pembimbing saya siap bertemu dua hari kedepan. Saya tentu langsung bahagia sekaligus dumbats together alias mulai overthinking. Untuk pertemuan tersebut, saya menyiapkan slide presentasi ala kadarnya sebagai bahan diskusi.
Setelah dua hari menyana macam-macam di kepala, akhirnya Kamis tiba. Sesuai informasi dari Mbak Ocha, agenda pertemuan dijadwalkan dari Pukul 9 hingga 10 pagi. Sejam sebelumnya saya sudah berada di Ruangan 414. Saat tiba di ruangan tersebut, sudah ada Mas Idil yang kemudian menyambut saya yang lama tak muncul. Kami berbincang sedikit lalu masing-masing kembali ke laptop.
Tepat pukul 9, saya diingatkan google calendar kalau agenda pertemuan sudah tiba waktunya. Saya lalu ke ruangan 412 dan menunggu sebentar lalu Mas Randy datang. Setelah berbincang tak lama, Mbak Linda akhirnya tiba. Dan sesi bimbingan perdana ini dibuka oleh Mbak Linda yang kemudian mempersilahkan saya untuk menyampaikan ide penelitian. Ia memberi saya pilihan apakah mau mempresentasikan slide atau mau ngobrol saja. Saya memilih untuk ngobrol saja biar lebih santai.
Saya lalu menyampaikan perubahan ide penelitian saya yang berubah entah berapa kali sejak saya mengirimkan draft proposal saat mendaftar S3 hingga ide yang saya temukan setelah membaca tulisan Mbak Linda di buku Politik Kewargaan di Indonesia yang kemudian memunculkan topik paling anyar yaitu tentang Artivisme dan Politik Kewargaan. Meski berubah-ubah, benang merah ide saya selalu sama terkait seni.
Setelah selesai, kedua promotor lalu memberi tanggapan. Diawali oleh Mbak Linda dan kemudian dilanjutkan oleh Mas Randy. Singkatnya, oleh Mbak Linda saya diminta untuk membawa ide saya soal seni ini dalam konteks yang lebih HI. Mas Randy juga serupa. Ia lalu mengarahkan peluang pembahasan bisa dalam konteks jejaring transnasional atau dibawa ke pembahasan soal translasi norma internasional. Untuk memperjelas, Mbak Linda menggambarkan skema gagasan yang bisa saya kembangkan soal translasi norma tersebut. Mas Randy juga menyarankan bacaan soal norma ini yang tentunya menyebut nama seperti Amitav Acharya. Nama yang sangat akrab di telinga saya beberapa tahun terakhir. Pertemuan akhirnya selesai kurang dari satu jam. Sebelum ditutup kedua promotor meminta saya mengirimkan draft proposal terbaru di akhir Mei. Dan yang paling terakhir tentu agenda foto foto untuk mengabadikan momentum penting dalam hidup saya ini.
Saya keluar dari ruangan 412 dengan tersenyum. Dalam hati saya bergumam akhirnya balik lagi kesitu. HI memang tempat pulang hahaha….Chayo Bob!
Bapakmahasuar
Kaliurang, 7 Mei 2026



Komentar
Posting Komentar