Aksi Kamisan Pertama dan Konser 13 Tahun SMI di 0 KM Jogja
Kamis siang, beberapa saat sebelum pukul 12 yang jadi tenggat akhir pengumpulan draft proposal penelitian, saya akhirnya mengirimkan draft tersebut. Seperti biasa, untuk urusan kerjaan yang ada kaitannya dengan tulisan, saya selalu deadliner. Meski belum sempurna dan masih ada beberapa bagian bahkan belum selesai, tapi sebagai draft awal, saya kira lumayanlah.
Setelah selesai mengumpulkan tugas, rehat sedikit meluruskan kaki sambil menonton apa saja di Youtube, saya mandi dan bersiap menuju tengah kota Jogja. Tepatnya di O KM. Sehari sebelumnya, saya dapat kabar dari seorang kawan yang baru saja diperkenalkan oleh Ari via zoom meeting kalau ERK ada panggung di Jogja pada hari Kamis itu. Saya lalu ngecek di IG ERK dan dari sana saya diarahkan ke IG Social Movement Institute (SMI) kalau betul akan ada konser bertajuk Bangkitlah Kaum Muda di ) KM Jogja, tepatnya di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret. Selain ERK, di line up ada Usman and The Blackstone, Majelis Lidah Berduri a.k.a Melbi serta ada beberapa orasi politik.
Di poster konser yang disebarkan melalui IG tertera kalau open gate pada pukul 2 siang. Saya melintas didepan O KM kurang lebih setengah jam sebelumnya. Dari lampu merah legendaris O KM, saya belok kanan menuju selatan. Rencananya mau parkir di parkiran RSU PKU Muhammadiyah yang terletak tak terlalu jauh dari O KM. Tapi saya terlewat. Akhirnya mesti memutar lagi melewati samping Istana Merdeka dan kembali melalui lampu merah O KM. Kali ini saya belok kiri menuju area parkir di depan Shopping Book Centre yang legendaris namun sepertinya sedang menuju senjakala.
Setelah motor saya parkir dan membayar biaya parkir tiga ribu rupiah, saya berjalan kaki menuju venue. Setelah beberapa menit, saya sudah berada di area O KM. Saya lalu duduk di tempat duduk yang memang banyak tersedia di area tersebut karena gate belum dibuka meski didalam sudah ada aktivitas khususnya di atas panggung yang kira-kira tingginya semester dari tanah. Beberapa orang yang juga duduk di area tersebut saya yakin sama seperti saya. Menunggu gate dibuka. Mereka semua menggunakan kaos hitam karena salah satu syarat untuk bisa masuk harus menggunakan pakaian berwarna hitam. Dan mengikatkan pita merah di tangan atau lengan. Nah ini baru saya ingat saat melihat di sekeliling. Semua yang lagi menunggu menggunakan pita hitam. Untung saja, di kanan saya ada bapak yang memegang banyak pita merah yang sepertinya ia jual. Meski ia duduk santai dan tak menjajakan pita-pita itu. Saya mendekatinya dan membeli pita seharga lima ribu rupiah.
Tepat pukul 2 siang, panitia membuka gerbang menuju area konser. Saat itu, penonton yang masuk belum cukup banyak masih bisa dihitung jari. Setelah diperiksa oleh panitia untuk memastikan barang-barang yang terlarang tidak terbawa ke dalam area konser, saya lalu mengambil tempat duduk di bagian di sebelah gerbang masuk. Tak lama setelah itu, panitia meminta kami yang sedang duduk untuk membentangkan spanduk yang berada di beberapa titik di depan dan samping panggung. Semua yang baru masuk juga diminta untuk langsung melakukan hal yang sama hingga semua spanduk telah terbentang Aktivitas ini berlangsung kurang lebih setengah jam. Awalnya saya berpikir kalau ini hanya untuk kebutuhan dokumentasi kegiatan. Saya sama sekali tidak menyadari kalau ini adalah Aksi Kamisan. Padahal tulisan Aksi Kamisan banyak sekali tertera di spanduk-spanduk, bahkan di spanduk yang berada di bagian atas panggung. Saya baru sadar justru setelah aksi selesai dan duo MC menjelaskan kalau Aksi Kamisan Jogja biasanya dilaksanakan di Tugu Jogja dan untuk hari itu dipindahkan ke O KM Jogja. Akhirnya saya memecahkan telur bisa ikut Aksi Kamisan meski tidak langsung di depan istana merdeka. Meski ini juga depan istana sih.
Setelah kumandang adzan ashar berlalu, duo MC yang keduanya adalah anggota SMI akhirnya mempersilahkan penampil pertama, Usman and The Black Stone. Para penonton yang awalnya duduk kemudian diminta maju ke depan panggung oleh sang vokalis yang tak lain adalah Usman Hamid. Ia kini setauku adalah direktur Amnesti Internasional Indonesia. Meski matahari masih cukup membakar, namun penonton tetap memilih merapat ke depan panggung. Meski telah mengetahui band yang membawakan lagu-lagu protes ini sejak beberapa waktu lalu, namun ini kali pertama saya mendengarkan lagu-lagu mereka. Temanya beragam. Ada tentang kerusakan lingkungan, penghilangan paksa, kasus Munir, isu perempuan yang terinspirasi dari istri Wiji Thukul almarhumah Sipon dan beberapa isu sosial lainnya. Yang jadi fokus saya, salah satunya soal gesture Usman di panggung. Saya yang biasa melihatnya di forum diskusi atau saat berorasi khususnya di media sosial atau televisi, cukup kaget melihat atraksinya yang sangat rocker.
Setelah Usman and The Black Stone usai, ada penampilan Majelis Lidah Berduri. Namun sebelumnya, beberapa tapol kasus Agustus tahun lalu menyampaikan puisi dan oransinya. Salah satunya Delpedro yang menyampaikan orasi paling akhir dari tiga tapol yang berdiri di atas panggung. Mendengar orasi-orasi yang lantang, jujur saya merasakan sesuatu yang aneh. Serupa trauma. Saya takut menghadapi kenyataan bahwa esok suara-suara ini akan berubah arah dan berhenti jadi memori. Tapi tentu harapan bahwa perubahan akan datang dari para anak muda ini tetap terjaga. Oh iya, sebelum Delpedro memulai orasinya yang cukup panjang dan berapi-api, ia memimpin massa untuk menyanyikan Darah Juang. Sambil mengangkat tangan kiri, saya ikut bersama koor massal menyanyikan lagu yang pertama kali saya dengar di salah satu malam minggu revolusioner yang saya lalui saat mengikuti pemogokan buruh PT CAS dua puluhan tahun lalu
Sebelum akhirnya Melbi menuju panggung, venue konser semakin penuh. Bahkan sudah terlihat berdesakan dan merangsek ke depan panggung saat personil Melbi siap membawakan nomor-nomornya seperti Dapur, NKK/BKK; Bioskop, Pisau Lipat; dan beberapa lagu dari album Balada Susi dan Joni. Seperti biasa, Ugo tampil sangat performatif. Sesekali mengagitasi penonton dengan jargon yang sepanjang konser ini diulangi berkali-kali. “Semakin Ditekan, Semakin Melawan.” Di satu kesempatan Ugo bercerita kalau mereka tak menyangka kalau lagu Dapur, NKK/BKK akan relevan hari-hari ini. Dapur menjadi sangat begitu politis. Melbi mengakhiri panggungnya ditemani senja yang mulai menutupi langit Jogja.
Menjelang Magrib, ada orasi dari Mas Eko Prasetyo mewakili pendiri SMI. jadi konser ini sekaligus sebagai perayaan 13 tahun SMI. Tapi fokus saya tentu ke Mas Eko. Sungguh semangatnya masih sama seperti saya pertama kali menjumpainya kalau tak salah di tahun 2003. Saya menjadi moderator diskusi buku Orang Miskin Dilarang Sekolah Terbitan Resist Book karya beliau. Saat itu saya masih berstatus mahasiswa S1 di Unhas dan jadi pengurus BEM Fisip yang menginisiasi kegiatan diskusi buku itu di Pelataran Baruga Unhas. Orasinya yang teratur dan sistematis serta berapi-api meski tetap terlihat santai masih sama seperti dulu. Dalam hati saya berdoa semoga ia sehat selalu. Lalu setelahnya ada puisi dari Mas Butet. Saya mengira ia akan membacakan puisi yang ia bacakan sebelum Soeharto jatuh. Ia membacakan puisi yang katanya kali itu untuk ketiga kalinya dibacakan. Meski tidak sebugar dulu, tapi semangat dan gaya nyelenehnya masih terasa. Setelah dua tokoh itu, azan Magrib berkumandang dan penonton semakin padat. Bahkan pintu gerbang sudah ditutup.
Jogja sudah mulai gelap saat ERK akhirnya tampil. Panggung dimulai dengan Seperti Rahim Ibu yang langsung membakar. Lalu setelahnya nomor-nomor andalan ERK seperti Di Udara, Putih dan Merdeka. Saya cukup tidak menyangka lagu Merdeka dibawakan. Sepertinya ini salah satu lagu yang jarang ERK bawakan. Lagu Merdeka ini cukup membekas bagi saya. Beberapa tahun saya dan komrad dibawah bendera Teater Ketjil membacakan puisi naratif yang terinspirasi lagu Merdeka yang saat itu video klip yang disutradarai Anton Ismael baru saja dirilis. Jadinya sepanjang lagu, sambil sing along, saya terbawa ke memori-memori pementasan itu dan kepikiran untuk mengaktifkan kembali teater Ketjil. Saya lalu membayangkan kembali mentas dan semua anak-anak ikut serta. Maha dan Suar seingatku sudah pernah tapi Rekah yang belum pernah sama sekali. Semoga bisa terwujud. Bersemi Sekebun juga dibawakan. Saya sempat berharap ada Ucok keluar dari backstage membawakan part puisi di lagu ini. Tanpa Ucok memang lagu ini seperti tidak utuh. Tapi tetap oke tentunya. Dari nomor-nomor yang dibawakan, perasaan haru paling terasa di lagu Sebelah Mata. Saat lagu ini dibawakan tepat di depan saya seorang penonton mengangkat poster Andri Yunus yang kemungkinan besar kehilangan fungsi penglihatan matanya karena berani membela kebenaran. Mata saya basah.
ERK tidak menjadi penutup malam itu. Setelahnya ada penampilan beberapa lagu dari teman-teman Papua yang tampil akustikan dan member nuansa berbeda konser malam itu. Panggung berakhir sesaat sebelum adzan Isya. Setelah menunggu jalur keluar gate lengang, saya keluar dan berjalan kaki di tengah keramaian area 0 KM menuju parkiran Shopping dengan perasaan senang dan dada yang terisi. Dengan lambat saya menyusuri jalan pulang kembali ke Kaliurang dengan cita-cita kecil seperti biasa.
Zulkhair Burhan
Gang Pancawala, Klidon
24 Mei 2026







Komentar
Posting Komentar