Jenny, Perjumpaan dan Konsep Hampir Rock Nyaris Seni
Selepas kuliah, khususnya pada jam makan siang, biasanya saya dan Aswin akan menuju Kantin Fisipol UGM. Kami berdua sama-sama berasal dari Makassar dan tinggal di satu kos yang sama di pinggiran Kali Code Terban, Yogyakarta. Karena Aswin punya kendaraan bermotor, kami hampir setiap hari bersama. Ke mana pun. Mulai dari nyari makan yang akhirnya mentok di tempat-tempat itu saja, hingga petualangan mendatangi banyak acara musik gratisan hingga yang berbayar namun sangat ramah di kantong. Saat itu, kami terdaftar sebagai mahasiswa S2 Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada.
Hari itu, di penghujung Februari 2011, selepas kuliah kami berdua langsung menuju Kantin Fisipol. Sebelum mencari meja yang kosong, kami berdua punya kebiasaan singgah di papan informasi yang terletak di bagian depan kantin. Yang selalu kami perhatikan adalah apakah ada info diskusi atau seminar yang menarik dan tentu apakah ada konser gratisan. Saat itu, kami berdua langsung berfokus ke poster event musik ukuran A3 yang nampaknya dibuat manual dari kertas A4 yang disambung dengan lem. Nama eventnya Rock Siang Bolong. Yang menarik perhatian, karena tajuk event itu cukup provokatif, F*ck 90’s and Here 2000’s Hero. Selain itu, kami berdua tak kenal satu pun band yang tertera di poster. Tapi karena event ini diadakan oleh mahasiswa ISI Jogja dan sepertinya bakal oke, maka kami memasukkannya dalam agenda petualangan akhir pekan.
Berjumpa Jenny
27 Februari menjelang sore, saya dan Aswin sudah berada di area amphitheater Taman Budaya Yogyakarta (TBY) tempat event Rock Siang Bolong dilaksanakan. Setelah membeli tiket masuk 5000 rupiah, kami masuk ke venue dan menyaksikan penampilan beberapa band di sore hari dan dilanjutkan setelah magrib.
Rock Siang Bolong sendiri merupakan event musik yang diadakan oleh mahasiswa ISI Yogyakarta dan menghadirkan musisi atau band yang memiliki roots ISI Yogyakarta seperti Sangkakala, Black Boots, dan tentu Jenny. Malam itu, Jenny tampil agak akhir.
Setelah nama Jenny dipanggil oleh host, beberapa orang naik ke atas panggung. Saya mengira band ini beraliran punk karena beberapa orang yang naik di atas panggung berpenampilan ala punk.Ternyata mereka adalah kru Jenny. Setelah semua siap, seluruh personel naik ke panggung. Namun, yang paling menonjol adalah sang vokalis. Saat intro mulai diputar menuju lagu pertama, ia mulai mondar-mandir di depan panggung dengan langkah yang agak cepat seperti sedang memulai sebuah ritual. Di tangan kirinya ada buku catatan berwarna hitam yang terbuka dan di tangan kanannya ada sebatang rokok. Lalu mulai menyapa penonton yang mulai siap merespons penampilan Jenny.
Jenny berasal dari rahim ISI Yogyakarta. Band ini terbentuk pada pertengahan 2003. Awalnya hanya untuk mengisi acara malam keakraban di jurusan desain ISI Yogyakarta. Formasi personelnya yaitu Farid Stevy Asta (vokal), Roby Setiawan (gitar), Arjuna Bangsawan (bass) dan Anis Setiaji (drum). Namun, malam itu, posisi penggebuk drum diambil alih oleh Danish Wisnu Nugraha karena beberapa saat sebelumnya Anis Setiaji memilih keluar dari band untuk fokus bekerja.
Pada perjumpaan pertama ini, Jenny membawakan beberapa nomor dari album Manifesto yang dirilis pada 2009 seperti Mati Muda, Manifesto Postmodernisme, Menangisi Akhir Pekan, Monster Karaoke, Maha Oke dan single Hujan Mata Pisau serta Hari Terakhir Peradaban yang baru saja dirilis saat itu.
Meski saat itu kami belum bisa terlibat dalam koor massal bersama penonton yang sejak awal tak henti bernyanyi, kami sangat menikmati pengalaman artistik dan spiritual yang disuguhkan Jenny malam itu.
Almost Rock Barely Art
Setelah malam perjumpaan yang berkesan itu, saya dan Aswin selalu meluangkan waktu untuk merayakan akhir pekan dengan mendatangi hampir semua panggung Jenny. Berjumpa dan berbahagia dalam kerumunan bersama para pengantusias yang memutuskan untuk mendukung karya-karya Jenny.
Seperti konsep yang diusung band ini, benang merah dari panggung-panggung Jenny yang saya datangi adalah Almost Rock Barely Art. Karya-karya Jenny yang tentu berada dalam irisan musik rock meski tak berada di inti, dibalut dengan kemasan seni yang tak berlebihan. Semuanya hampir dan nyaris. Tapi tak berarti tanpa kejutan.
Mungkin setiap orang akan punya kesan berbeda, tapi Jenny selalu punya caranya sendiri untuk membuat kita tidak hanya tertarik dan mau berlama-lama menyaksikannya, tapi juga bisa membuat siapa pun larut dalam pertunjukan. Menonton Jenny tidak hanya seperti menonton pertunjukan musik, tetapi juga seperti menonton pertunjukan seni. Bahkan sejak lagu pertama belum dimulai. Begitu yang saya rasakan sejak menonton Jenny di Rock Siang Bolong dan berbagai pertunjukan lainnya setelah itu.
Intro khas, yang diputarkan saat kru mempersiapkan panggung, berupa teriakan yang terus meninggi yang diambil dari lagu Menangisi Akhir Pekan, selalu berhasil punya daya magis yang membuat adrenalin penonton meninggi menanti lagu pertama. Selanjutnya, ada adegan Farid Stevy dengan kostum khas era Jenny berjalan cepat bolak-balik mengitari bagian depan panggung sebelum lagu pertama menghentak tak ayal seperti prolog pertunjukan. Dan setelahnya kamu akan disuguhi kejutan-kejutan dramatikal. Bentuknya bisa berbeda-beda. Kamu yang mengalami era Jenny pasti ingat adegan Farid membawa payung hitam ke atas panggung, meludah berjamaah, membanting mic, dan tentu crowd surfing. Dan tentu suguhan visual lainnya, baik dalam poster maupun konten publikasi Jenny lainnya, yang memang menjadi ciri band ini. Prinsipnya, kamu harus selalu bersiap dengan kejutan di setiap panggung Jenny.
Salah satu panggung yang berkesan, selain penampilan Jenny di Rock Siang Bolong tentunya, pilihan saya jatuh pada panggung Jenny di sebuah event bertajuk Letter to Our President yang dilaksanakan pada akhir Mei 2011 di sebuah klub malam cukup tua di Jogja yang terletak di Jalan Magelang. Event ini diinisiasi oleh komunitas yang peduli terhadap berbagai isu intoleransi yang marak terjadi saat itu. Menariknya, meski event ini tak berbayar, setiap pengunjung mesti menulis surat yang ditujukan untuk presiden sebagai tiket masuk. Hari itu, saya menulis tiga surat. satu untuk saya, dua lainnya buat kawan yang menemani saya nonton malam itu. Satu surat saya ketik dan menulisnya serius. Berharap sampai ke tangan Pak Presiden. Dua surat lainnya saya tulis tangan menggunakan pulpen yang tintanya sekarat. Seadanya dan sangat ala kadarnya. Semoga juga sampai di tangan Pak Presiden, harapku.
Di akhir penampilan Jenny, para kru membagikan segepok amplop untuk semua penonton yang berada di depan panggung malam itu. “Tulislah surat untuk diri kita sendiri! Write the Letter to ourselves,” pungkas sang vokalis. Sebuah ajakan untuk melihat diri sendiri. Jangan-jangan praktik intoleransi justru sering kita normalisasi atau bahkan tak sadar melakukannya sehari-hari. Sungguh sebuah pukulan telak dan tepat sasaran. Apalagi disuguhkan dengan sangat performatif nir-kesan menggurui. Bagi saya, momentum seperti ini yang membuat konsep Hampir Rock dan Nyaris Seni ini punya relevansi.
Zulkhair Burhan
*Tulisan ini dibuat untuk mengisi zine perilisan piringan hitam album Manifesto Jenny pada 2025 di Jogjakarta



Komentar
Posting Komentar