Hasta La Vista, Pak Riza

Salah satu karakter intelektual yang saya kagumi dari dosen-dosen di UGM saat saya kuliah S2 Hubungan Internasional dulu adalah mereka terbuka dengan pandangan dan sikap politik yang kita tunjukkan paling tidak di ruang kelas. Mereka tidak reaksioner ketika mendapati fakta bahwa mahasiswanya berbeda pandangan politik ketika berdiskusi, bahkan didukung untuk belajar lebih giat. Tidak semua seperti itu tentunya, tapi salah satu dari beberapa itu adalah Pak Riza Noer Arfani.

Saya bertemu pertama kali dengan beliau di mata kuliah Ekonomi Politik Global saat semester pertama. Di mata kuliah itulah saya dan beberapa teman yang juga berasal dari Makassar banyak berdiskusi. Salah satu topiknya tentang perkembangan ekonomi politik di Amerika Latin yang pada masa itu sedang bergeser ke kiri. Kalau tak salah ingat Pak Riza pula yang memperkenalkan kepada kami dengan terminologi Pink Tide dari sebuah literatur tentang Amerika Latin. Pak Riza saat itu sangat mewadahi kecenderungan ideologis kami yang sangat struktural. Karena itu, dia lah dosen yang pertama kali jadi tempat konsultasi topik penelitian saya tentang Amerika Latin. 

Tapi saya dan anak-anak Makassar baru sadar jika beliau punya kecenderungan ideologi ekonomi politik yang berseberangan dengan apa yang sedang terjadi di Amerika Latin ketika ia membidani lahirnya Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) UGM yang kalau tak salah didukung WTO. Makanya kami biasa bercanda kalau Pak Riza ini ambil bagian mulai dari yang paling kiri hingga kanan mentok. Betapa tidak, sebelum fokus di PSPD, ia seingatku jadi dosen Amerika Latin dan jadi inisiator Pusat Studi Amerika Latin di FISIP UGM. 

Tapi setelah mengetahui kecenderungan itu tak ada yang berbeda di ruang kelas atau saat bertemu. Beliau tetap jadi dosen yang suportif. Salah satunya dengan meminjamkan buku berjudul States and Market dan Casino Capitalism karya Susan Strange untuk kami foto copy. Itu alasannya juga mengapa saya meminta ke sekretariat untuk menjadikan beliau sebagai salah satu dosen penguji saya untuk seminar proposal. Nah, soal kecenderungan perspektif diatas tadi, ada peristiwa lucu yang terjadi saat ujian proposal. Setelah presentasi dan dosen-dosen penguji diberi waktu untuk bertanya, Pak Riza bertanya ke saya dengan suara yang agak berbisik dan menunjukkan wajah heran, “Bob, kenapa kamu gak pake strukturalis?.” Jadi meski membahas tentang Amerika Latin, oleh Prof. Mochtar saya diarahkan untuk menggunakan perspektif konstruktivisme. Kata Prof. Mochtar, terlalu biasa kalau pakai strukturalisme. Karena itu, saya hanya tersenyum saat Pak Riza mengajukan pertanyaan diatas.

Soal dukungan, saya juga pernah “dijebak cantik” oleh Pak Riza. Jadi suatu waktu saat hendak proposal, saya mengajukan beberapa draft proposal ke beliau untuk mendapatkan arahan. Meski saat itu pembimbing tesis belum ditentukan. Draft yang saya kirim ke beliau tentang People Council and Food Sovereignty di Venezuela kalau tak salah. Saat itu beliau berjanji untuk membaca draft saya dan saya lalu menunggu respon beliau. Tapi tak lama setelah hari itu, saya dikontak oleh seorang staf PSPD. Saya diminta untuk menjadi narasumber sesi diskusi rutin di PSPD. Katanya saya direkomendasikan oleh Pak Riza untuk membahas topik sesuai dengan draft yang saya kirim ke beliau. Sungguh saya tak siap saat itu, tapi sambil tersenyum saya mengiyakan tawaran untuk jadi narasumber diskusi itu. Saya tersenyum karena meski merasa dijebak tapi saya bahagia dengan kesempatan itu. 

Pagi tadi, sepulang dari menemani anak-anak berenang, saya membaca kabar duka tentang kepulangan Pak Riza. Saya langsung terduduk lesu membaca ucapan belasungkawa dari grup WA dan dari beberapa akun media sosial. Salah satunya dari Ronny Agustinus dari Penerbit Marjin Kiri. Ia teringat pernah diajak menjadi dosen tamu untuk mata kuliah Amerika Latin yang diampu Pak Riza. Dari kolom komentar, Pak Nur Iman Subono, dosen HI UI, mengucapkan belasungkawa dan mengutarakan penyesalannya belum sempat berkenalan dengan almarhum. Saya lalu membalas komentar beliau dan mengingatkan jika ia pernah sepanggung dengan mendiang Pak Riza di sebuah seminar yang diadakan oleh Pusat Studi America Latin UGM dan menghadirkan beberapa duta besar negara-negara Amerika Latin. Saat itu Pak Riza yang menjadi moderator. Saya tak mungkin lupa momentum itu. Saat itu, Pak Riza mempersilahkan saya yang menggunakan kaos bergambar Castro, Hugo Chavez dan Evo Morales yang saya sablon sendiri untuk mengajukan pertanyaan ke Pak Iman yang menjadi narasumber seminar. 

Dan akhirnya semua kepingan ingatan saya tentang beliau adalah tentang tautannya dengan ilmu pengetahuan. Semoga itu semua jadi amal jariyah yang kekal. Selamat jalan Pak Riza. Kami akan terus mengenangmu sebagai guru yang suportif dan menyenangkan.

Hasta La Vista.

Komentar

Postingan Populer