karena kita harus bercerita dan berbagi.

-comrade-

Selasa, 19 Februari 2019

Maha, Piala dan Kami Yang Sangat Berbangga

Minggu kemarin, adalah salah satu akhir pekan yang gemilang.  Maha menerima gelimang puja, elu dan tepuk tangan atas usaha yang tidak biasa. Mendapat 2 piala dalam dua hari, seketika membuat Maha menjadi spot cerita dalam akhir pekan kami. 

Seminggu lalu, setelah berdiskusi, diberi pertimbangan, Maha menerima ajakan kami untuk mengikutkan puisinya dalam lomba cipta puisi. Walau rutin menulis, Maha tidak pernah mencoba menulis puisi. Beberapa kali dia bertanya tentang aturan puisi dan bagaimana sebaiknya menulis puisi. Awalnya saya kesulitan, tapi saya mengarahkan Maha membaca beberapa buku puisi di perpustakaan. Saya lupa apa yang membuat susunan kata disebut puisi, atau saya mungkin tidak percaya diri menjelaskan pada maha tentang puisi yang saya pahami. Dalam diskusi, saya bilang begini "puisi itu memadatkan cerita maha" dan justru membuatnya semakin bingung. Akhirnya saya bilang " tulis saja dulu". 

Cara itu ternyata ampuh buat Maha, dia tidak perlu terbatasi dengan aturan yang selama ini dia kenal lewat pelajaran Bahasa Indonesia di sekolahnya atau puisi yang biasa ia bacakan d panggung teater.

"Kalau saya menulis tentang pagi, bisa? " Saya mengangguk dan bertanya
 "kenapa pagi?"
"Pagi itu kaya susah tapi bahagiaki" saya mengangguk dan membiarkannya menulis.

Sekitar 1 hari 1 malam, dia mengerjakan puisinya. Sampai dua malam berikutnya, dia menyetor puisi yang ia tulis. Saya membaca dan menandai beberapa kata yang menurut saya tidak penting. Kami sama-sama mendiskusikan, tentang kenapa kata itu harus ada atau tidak. 

Ada beberapa kata yang diganti kata lain, ada beberapa kata yang dia ngotot harus tetap ada dengan pertimbangan dan sudut pandangnya sendiri. Setelah proses editing, kami membaca kembali karyanya. Dia puas dan meminta saya mengirimkannya.

Lalu, tidak jauh berselang, selepas pulang sekolah, Maha dengan riang menyatakan kalau dirinya ditunjuk  mewakili sekolah untuk lomba menggambar. Saya heran pasalnya Maha jarang menunjukkan bakat menggambarnya  di sekolah.  Apalagi untuk pelajaran kesenian. Dia tidak terlalu senang jika harus menggambar atas titah orang lain. Dan dia selalu kesal, karena tema gambar selalu "pemandangan". 

Takjub sekaligus gembira, karena dia mau berpartisipasi, dan menurutnya ini bisa jadi momentum memperlihatkan bahwa ada jenis gambar lain yang juga bagus, tidak melulu pemandangan. Ia sudah membayangkan apa yang akan digambarnya.

Namun, sayang. Keesokan  harinya, Guru pembinanya memberi bocoran bahwa tema yang akan digambar adalah pemandangan. Ia pulang dengan lesu dan pesimis.

Saat begitu, maha hanya perlu diajak bicara, seperti anak-anak lainnya saya biasanya hanya perlu membantunya melihat dari sudut pandang yang lain.
" Kenapa maha tidak berusaha menggambar pemandangan?" 
"Menurut ibu, maha tidak kalah jagonya jika mau sedikit latihan" 

Begitu saya mengulang-ulang sampai akhirnya dia teringat, saat liburan kemarin dia bersama Puang Ana dan Aira menghabiskan banyak waktu libur dengan menggambar menggunakan crayon sebagai latarnya. Saya tidak tahu, teknik apa namanya. Mereka menggunakan gradasi warna lalu menambahkan gambar serupa siluet. 

gambar saat maha latihan
Dengan ragu, Maha memutuskan menggunakan metode itu. Kami mendukungnya dan menyemangatinya. Berbekal mesin pencari google, maha semalam sebelum hari lomba, giat berlatih. Dia kelihatan tidak puas dengan gambarnya, lalu membuat gambar lagi. Beberapa kali. Hingga waktu tidurnya tiba, maha kelihatan tidak puas dengan apa yang ia usahakan. 

Selama ini Maha memang terpaku pada metode menggambar sketsa dengan manusia sebagai objek utamanya. Dia hanya suka menggunakan pulpen atau pensil dan  tidak terlalu senang dengan warna. Karenanya ia selalu ogah saat lomba mewarnai. 

Pagi, sesaat sebelum pergi saya memberi kesempatan lagi untuk mencari inspirasi untuk gambarnya. Lalu, akhirnya Ia dapat satu pemandangan senja di pinggir pantai dengan pohon kelapa dan orang yang sedang berjemur. Dia mantap memilih gambar serupa.

Tidak saya sangka, maha pulang dengan berita kemenangan. Dia senang karena cara menggambar tersebut membuatnya terpilih sebagai juara. Kegembiraannya berlipat-lipat karena ia akan menerima piala saat upacara bendera hari Senin. 

Kami tidak berhenti berdecak kagum, tidak berhenti memuji kecakapannya, tidak berhenti mengingatkan bahwa ia bisa menggambar apa saja jika ia mau.  
Kami,  semua. 


Tidak lama setelah berita bahagia itu, kabar tentang puisinya juga kami terima. Juara 3. Kebanggan, kebahagiaan kami berlipat ganda. 

Lalu, Suar bagaimana? Suar merayakan paling heboh dengan caranya sendiri. Berteriak, bertepuk tangan, dan mengelu-elukan Kakak Maha. Ia justru kelihatan paling berbahagia. Tapi, disela puja-puji untuk kakaknya, dia dengan berani mempercayai dirinya bahwa ia juga pernah juara. Cerita prestasi maha hari ini akhirnya diselingi dengan cerita Suar yang ia ingat atau yang ia bayangkan tentang prestasinya di sekolah atau di rumah.

Piala Maha hari ini adalah perayaan atas proses yang kami lewati bersama sebagai tim, sebagai keluarga, sebagai partner diskusi, sebagai ruang belajar yang harus terus direproduksi. 

Kami menyemangati menyoraki MahaSuar untuk tiap piala, tiap piagam, tiap prestasi, tiap usaha, tiap langkah yang mereka usahakan dengan baik dan membantunya merayakannya dengan cara yang sederhana. 
Tidak ada yang lebih membahagiakan saat anak-anak tumbuh bahagia dengan apa yang ia miliki lalu mensyukuri dan merayakan setiap usaha yang mereka kerjakan. Sekecil apapun itu. 

Selamat, Maha Suar. Great job as always

ibumahasuar
20 Februari 2019

Jumat, 08 Februari 2019

Suar, Cukur Madura dan Sebuah Pengakuan

Kisah ini saya ceritakan sekaligus sebagai pengakuan atas khilaf yang telah saya lakukan ke anak saya sendiri yang paling bungsu, Suar Asa Benderang. Semoga kelak saat ia membaca kisah ini dia bisa memahami kekeliruan yang telah saya lakukan kepadanya secara tak sengaja tentunya dan kemudian memaafkan saya.

Jadi ceritanya bermula beberapa waktu lalu saat kakak maha berhari-hari tidak pernah membasahi kepalanya karena takut mengenai titit-nya yang barusan dikhitan. Karena tidak pernah dishampo kepalanya begitu gatal dan kami memprediksi selain karena kotembenya yang semakin tebal, sepertinya kutu-kutu jahanam itu kembali menghuni di kepala kakak.

Dan benar saja setelah sisir kutu beraksi puluhan kutu berjatuhan diatas kertas putih yang ditaruh dibagian bawah kepala kakak. Aksi pembasmian kutu berlanjut ke kepala Suar yang hampir pasti juga diserang oleh kutu-kutu rambut itu. Pasalnya setiap malam Suar tidur bersebelahan dengan kakak maha. Dan benar meski yang kami dapat tidak sebanyak yang berada di kepala kakak.

Setelah pagi pembasmian itu, kami bersepakat kalau kakak maha dan Suar harus segera dicukur pendek. Dan dari sinilah awal mula kekhilafan yang tak disengaja itu terjadi.

Sejak menghuni Kompleks Wesabbe empat tahun lalu, tempat kami cukur rambut berpindah tiga kali. Dua-duanya di Tukang Cukur Madura. Yang pertama Tukang Cukur samping Nasi Kuning Gerbang BTP yang rada kajjala’ itu. Kedua di samping gerbang Kompleks Wesabbe. Dan terakhir dan hingga kini jadi tempat cukur langganan kami yaitu Tukang Cukur yang terletak hanya beberapa meter dari gerbang jalan masuk menuju Kompleks Perumahan Dosen Unhas Tamalanrea.

Dan pagi itu saat kami bertiga sepakat untuk bercukur, tempat tujuan kami jelas yaitu Tukang Cukur Madura Perdos.

Tukang Cukur di Perdos sebenarnya ada dua. Selain yang dekat gerbang juga ada yang berada dekat STIK Nani Hasanuddin. Namun yang kedua ini tak pernah kami pilih sebagai tempat cukur kami hingga pagi yang tak bakal saya lupakan itu dating.

Tempat cukur yang menjadi langganan kami penuh. Biasanya kami rela antri menunggu tapi pagi itu kami segera bersepakat ke tukang cukur dekat gerbang esabbe namun kondisinya sama. Penuh dan antrinya panjang. Akhirnya kami kembali ke Perdos dan memilih untuk cukur di tempat yang tak pernah kami pilih sebelumnya.

Saat kami hendak masuk di tempat cukur itu hanya ada satu anak yang sedang dicukur. Kondisi yang agak berbeda dengan dua tempat cukur yang kami datangi pagi itu. Kondisi yang membuat saya agak ragu tapi kami sudah kadung berada disitu jadi bismillah saja.

Setelah si anak yang bercukur sebelumnya selesai, Suar menjadi yang pertama diantara kami bertiga yang dicukur. SI tukang cukur yang ramah dan detail menanyakan seperti apa bentuk cukuran yang saya mau untuk Suar membuat saya merasa tidak salah memilih tempat cukur ini. Instruksi saya sebenarnya tidak cukup detail, prinsipnya pendek dan tidak botak licin. Si tukang cukur senyum pertanda memahami instruksi saya setelah memastkan beberapa hal terkait model cukur Suar.

Selama cukur, si tukang cukur juga cukup interaktif dengan Suar dan sesekali ke saya yang duduk di belakang memastikan cukuran Suar tidak keliru. Karena instuksinya cukur pendek jadi waktu cukurnya tidak terlalu lama. Namun saya tidak detail disaat-saat akhir. Dan disitulah kesalahan fatal itu terjadi.

Si tukang cukur balik bertanya kepada saya disaat finishing cukuran Suar. Begini saja Pak? Tanya si tukang cukur. Saya lalu mendekati Suar dan memastikan semuanya apakah sudah oke atau ada yang masih perlu diperbaiki. Lalu pandangan saya terfokus ke bagian depan rambut Suar. Saya merasa ada yang aneh dan belum rapi. Saya lalu menunjuk bagian yang menurut saya belum rapi itu dan memberi intruksi agar dirapikan dengan memberi gerakan tangan setengah lingkaran di kepala Suar. Instruksi itu sebenarnya tidak jelas tapi saya piker si tukang cukur pasti mengerti. O iya, sebelumnya si tukang cukur sempat bertanya apakah mau dikasi poni. Saya tentu menolak dan akhirnya memberi intruksi berupa gerakan tangan itu.

Naasnya si tukang cukur menerjemahkan instruksi saya secara nyata dan plek. Itu saya sadari saat saya melihat Suar dari cermin. Tiba-tiba wajahnya aneh karena bagian depan rambutnya berbentuk setengah lingkaran yang aneh. Mirip-mirip pemeran di Star Trek pikirku. Dan dalam beberapa waktu saya langsung merasa lemas. Setelah turun dari kursi cukur berkali-kali saya memandangi wajah Suar memastikan apa yang salah hingga kemudian saya menyadari kalau kesalahan ini dari saya.

Maha yang cukur setelah itu saya pastikan tidak mengalami kejadian naas seperti SUar sebelumnya. Ia saya persilahkan memilih model cukur yang tertempel di dinding tempat cukur. Dan ketika dibagian akhir si tukang cukur bertanya apakah bagian depan rambut maha mau dicukur juga seperti Suar, cepat saya jawab tidak dan lag-lagi penyesalan saya datang menyerang sambil melihati kembali wajah Suar diseelah saya yang tampak aneh.

Setelah saya selesai cukur kami pulang dan kisah ini tidak pernah saya ceritakan ke siapa-siapa meski Ibunya maha sempat bertanya kenapa model cukur Suar agak aneh. Lucu sebenanrnya namun kami tak pernah mengatakan itu di depan Suar. Semoga kelak Suar memahami.

Tiba-tiba saya kembali mengingat pesan dosen saya di Jogja dulu, “there’s always devil in details.”

Sekali lagi maafkan bapakmu yang keren ini Suar.

Wesabbe, 9 Februari 2019
Tolak RUU Permusikan

Kamis, 07 Februari 2019

Cuap-Cuap di Ruang Baca


Sejak pertama kali menginisiasi lahirnya Kedai Buku Jenny, entah berapa kali ajakan datang untuk menceritakan kembali apa ide dibalik KBJ dan hal-hal yang masih dilakukan hingga sekarang. Dan seingatku tak ada ajakan yang kami tolak selama tidak bertabrakan dengan agenda lain yang sebenarnya bisa dihitung jari.

Ajakan untuk menceritakan kembali apa yang kami mimpikan saat mendirikan KBJ hingga sekarang selalu kami iyakan karena setiap yang kami sampaikan biasanya akan bertransformasi menjadi semangat baru sekaligus menjadi pengingat akan hal-hal kecil yang pernah kami lakukan bersama banyak orang. Karena itu saat Viny dan Ale mengajak saya dan ibunya maha untuk menjadi teman mereka bercuap-cuap di program Ruang Baca di I-Radio Makassar Rabu kemarin segera kami iyakan tanpa berpikir lama. Apalagi yang ngajak duo band yang memang sejak lama keluarga kecil kami idolakan….hehehe….

Ajakan mengisi program yang sama dengan nama project bermusik Viny dan Ale ini sebenaarnya sejak dua minggu lalu. Tapi beberapa hari sebelum hari H Suar jatuh sakit sehingga diundur ke Rabu kemarin saat Suar sudah fit dan siap untuk ditinggal kami berdua di malam hari.

Sebelum keluar rumah menuju I-Radio, yang pertama kami lakukan seperti biasa adalah memastikan Suar tidak menangis meraung-raung saat kami pergi. Meski beberapa kali kami tahu itu “drama” a la Suar tapi tetap saja ibunya harus memastikan ia tidak membuat siapa saja yang menungguinya tidak kerepotan selama pergi. Dan sekali lagi Indomaret adalah kunci.

Kurang lebih sejam sebelum jam 9 malam kami berangka berdua menuju I-Radio. Dengan perkiraan suasana jalan raya tidak terlalu padat karena langit yang sepertinya semakin hitam dan dengan kemampuan ku memacu motor yang selalu seperti sedang city tour, maka waktu kurang lebih sejam cukuplah untuk tidak telat sampai di I-Radio sebelum jam siar.

Seperti perkiraan sebelumnya, kami tiba di di area parkir I-Radio beberapa menit sebelum pukul 9 malam. Ale dan Viny beberapa menit kemudian juga tiba saat kami sudah berada di ruang tunggu I-Radio. Setelah menyapa dan bercerita bagaimana Ale berusaha ngebut karena takut telah, mereka berdua langsung mengajak  kami ruang siaran.

Ruang siaran yang baru saja direnovasi beberapa waktu lalu serta udara pendingin ruangan yang dingin maksimal menyambut saya dan Ibunya maha yang telah bersiap bernostalgia dengan cerita-cerita lama tentang KBJ dan keluarga kecil kami.

Dan siaran malam itu dibuka oleh Viny dan disusul oleh Ale setelah mereka berdua memastikan segala perangkat teknis siaran telah oke.

Sesi obrolan dimulai dengan pertanyaan apa yang melatarbelakangi lahirnya KBJ. Pertanyaan serupa ini entah berapa kali ditanyakan ke kami tapi selalu tak pernah bosan untuk menceritakannya. Apalagi pasti masih banyak diluar sana yang belum kenal dengan KBJ beserta segala aktivitasnya. Jadi menjawab pertanyaan ini apalagi di media yang memiliki ruang dengar luas seperti radio selalu disisipi harapan bertemu teman baru, teman pencerita baru.

Selama sejam selain bercerita tentang program-program terkini di KBJ kami juga dihantar untuk bercerita tentang beberapa hal di keluarga kecil kami. Misalnya soal kebiasaan nulis di blog saat LDR-an semasa saya kuliah di Jogja beberapa tahun lalu yang kemudian berlanjut ke cerita kebiasaan saya dan ibunya maha saling menuliskan surat saat salah satu dari kami keluar kota dalam waktu yang cukup lama dan berjanji untuk saling membacakan surat saat bertemu. Obrolan soal Suar dan Maha juga tentu tak lepas dari pembicaraan kami dengan dua pasangan muda ini. Mengingat maha dan SUar adalah bagian penting dalam perjalanan KBJ tentunya. Nuansa “curi-curi” ilmu dan skill mengasuh dan membesarkan anak sambil bisa tetap rutin dating ke gig sangat terasa disini…wkwkwkw….

Obrolan kami berempat tentu diselingi lagu-lagu pilihan Viny dan beberapa yang kami minta diputarkan. Saya misalnya meminta diputarkan salah satu lagu lawas berjudul Suaramu milik AB Three dengan formasi awal setelah kecewa karena lagu Tataplah milik Cool Colors tidak ada di koleksi mereka…hehehe…

Nuansa obrolan malam itu sama seperti saat mereka berdua datang bertandang ke KBJ atau saat saya dan ibunya maha menapa mereka sebelum naik keatas panggung menyapa penonton yang telah lama menunggu lagu-lagu Ruang Baca atau Kapal Udara didendangkan. Selalu penuh tawa, hangat, penuh asa, sesekali ideologis nan transformatif dan tentu dipenuhi gosip khas keluarga kecil yang sedang berusaha menapaki nasib di skena musik dan bekerja keras banting tulang biar segera punya rumah sendiri yang tak jauh dari kampus.

Sudahmi deh.

Terima Kasih Ale dan Viny sudah mengajak saya dan ibunya maha bernostalgia dengan cerita-cerita lama nya Glenn dan Nola. Dan terima kasih karena akhirnya percakapan kita sejam kemarin bisa buatka' ngeblog lagi.

Ajak lagi nah!

Hore ngeblog lagi...
Bapakmahasuar
8 Feb 2019

Rabu, 29 Agustus 2018

Masa Depan Sampah


Permasalahan sampah menjadi salah satu masalah yang dihadapi hampir seluruh masyarakat dunia apalagi kaum urban. Kita kaum manusia memproduksi limbah setiap waktu dan sayangnya tidak hirau akan hal itu.     

Menurut data yang dilansir di jurnal Lingkungan Hidup September 2016, kota-kota di dunia menghasilkan sampah hingga 1,3 milliar ton setiap tahun. Menurut perkiraan Bank Dunia jumlah ini akan bertambah hingga 2,2 milliar ton pada tahun 2025[1]. Angka ini adalah hasil kalkulkasi atas konsumsi global yang meningkat secara signifikan setiap tahun. Yang paling mencengangkan adalah setidaknya lebih dari 50% sampah itu adalah plastik. Jenis sampai yang setidakknya membutuhkan puluhan tahun untuk terurai. Mirisnya, semakin terurai, kandungan plastik menjadi semakin berbahaya.

Di Indonesia sendiri, menurut INDONESIA Solid Waste Association, produksi sampah plastiknya mencapai 5,4 juta ton per tahun, yang 13% nya, sekitar 6.000 ton adalah plastic. Jumlah ini diluar dari sampah yang mencemari lautan Indinesia. Diperkirakan sebanyak 46 ribu sampah plastic mengapung di setiap mil persegi samudera. Angka ini menjadi factor utama pencemaran laut di Indonesia yang 75% persen berkategori Sangat Tercemar, 20% Tercemar, 5% Tercemar Ringan[2]. Dan kabar buruknya, sebagian besar sampah itu adalah sampah rumah tangga di perkotaan dan pemukiman. Diperparah dengan pola hidup yang tidak ramah lingkungan. Akhirnya, tanpa disadari, masing-masing kita sedang memberi sumbangsih sekecil-kecilnya terhadap semesta sampah disekitar kita. Tidak terkecuali saya.

Sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak lekaki waktu luang saya tentu tidak banyak. Namun jika berkesempatan, saya menghabiskan waktu luang dengan menonton, kebanyaan drama Korea. Ada pola hidup yang menarik yang selalu ditampilkan di drama-drama Korea apapun genre dramanya. Salah satunya adalah tentang sampah.

Di semua drama Korea yang saya tonton, adegan pemilahan sampah dengan detil selalu diangkat. Bagaimana orang-orang di sana membuang sampahnya di tempat yang sesuai kategori. Organic, non organic dan plastik. Setelah saya cari tahu, kebijakan pembuangan sampah di Korea cukup ketat. Setiap rumah tangga diwajibkan memilah sampahnya dan memasukkannya ke tempat yang tepat. Kantong sampah dijual satu paket bertuliskan daerah tempat tinggal agar pihak yang mengurusi sampah tahu asal sampah mereka. jika tidak dilakukan sesuai aturan, sampah tidak akan diangkut.

Upaya ini sejak beberapa tahun lalu juga sebenarnya telah coba diimplemnetasikan di negara kita. Namun sayang, tidak berjalan sesuai harapan. Di Makassar ceritanya pun tidak jauh berbeda. Program LiSA (Lihat Sampah Ambil) yang pilot projectnya dilkasanakan di sekolah pun hanya sebatas program semata. Tidak bisa menjangkau kesadaran anak-anak untuk membuang sampah sesuai dengan jenis sampah. Jangankan hal itu, membuang sampah saja masih sembarangan. Tempat sampah yang disediakan dinas terkait, tidak butuh waktu lama, satu persatu rusak dan hilang.

Jika ada sekolah yang berhasil menjalankan program “membuang sampah sesuai jenisnya” ini, menurut saya pun sama saja sia-sia. Mobil pengangkut sampah yang ada, serta merta mengangkat sampah tersebut di mobil sampah dan sekonyong-konyong mencampurbaurkan semua jenis sampah. Artinya, program ini memang tidak siap dilaksanakan. Toh pada akhirnya sampah yang sudah dipisah-pisahkan akan bercampur lagi di pembuangan akhir. Kembali ke nol bukan?

Menurut saya, penting kiranya mengedukasi masayarakat tentang masalah sampah ini dan mengajak mereka untuk sama-sama berpartisipasi. Dan rumah adalah tempat yang tepat dimana cikal bakal pengetahuan itu mestinya bergulir dengan baik. Karena sekali lagi, bahwa produsen sampah terbesar adalah berasal dari rumah.

Menyadari pentingnya hal itu, sejak berumah tangga dan tinggal bersama anak dan suami, persoalan sampah ini betul-betul saya pikirkan. Setiap hari, kami sekeluarga memproduksi limbah  sekitar dua kantong kresek ukuran sedang. Kebanyakan adalah kemasan makanan dan minuman yang umumnya berbahan plastik, selanjutnya adalah sampah sisa makanan, dan sampah non organic. Saya berkomitmen mengurangi sampah dengan menekan pola hidup konsumtif dan bijak berplastik.

Jika tak bisa dihindari, plastik dan sampah organic seperti kertas dan karton, sedapat mungkin saya daur ulang. Komitmen ini membuat anak-anak saya sejak dini memahami bahwa sampah bisa disulap menjadi bentuk berbeda dengan sedikit kreativitas. Anak-anak pun tanpa komando melibatkan diri dalam proses ini. Mereka menikmati aktivitas daur ulang dan seringkali mengajak beberapa temannya untuk bergabung. Waktu yang kami habiskan mendaur ulang sedapat mungkin saya isi dengan membicarakan sumber-sumber sampah yang sedang kami olah. Sambil mengasah kreativitas, anak-anak perlahan tahu perihal sampah dan upaya yang bisa mereka lakukan untuk ligkungan sekitarnya.

Saya membayangkan, jika setiap rumah menggalakkan aktivitas ini sebagai aktivitas bersama keluarga. Tentunya bukan hanya mengurangi produksi sampah rumah tangga namun juga menumbuhkan kesadaran anak-anak sejak dini bahwa persoalan sampah adalah tanggung jawab setiap orang. Kita tentu tidak perlu repot berteriak menggalakkan aturan “buang sampah pada tempatnya”, karena dengan tidak disadari hal itu menjadi kebiasaan dalam keseharian anak.

Pemerintah hanya akan mengambil alih pada proses berikutnya. Yaitu pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir yang sekali lagi, harus terpisah. Contohnya  masih dari Korea Selatan, tempat pembuangan akhir mereka terbagi sesuai jenis sampah. Jauh lebih mudah dari Jepang, yang mengelompokkan sampahnya menjadi 10 jenis dan dilakukan dari rumah. Jika hal tersebut bisa diadopsi di Indonesia maka produksi sampah kita yang biasanya berbentuk piramida akan terbalik. Karena proses besar dan penting telah diselesaikan di rumah. Yaitu pemilahan dan daur ulang sampah.

Bukan pekerjaan mudah, tapi bisa. Beberapa desa percontohana bebas sampah telah melakukannya dan berhasil, salah satunya di Dusun Sukuanan, Desa Banyuraden, Kecamatan gamping, Kabupaten Sleman, Jogjakarta. Mereka merintis desanya menjadi salah satu wilayah ecotourisme yang didatangi banyak pemerhati lingkungan atau wisatawan krna kegigihan dan komitmen mereka terhadap urusan sampah ini. Mereka mengolah sampahnya menjadi uang, menjadi pupuk,menjadi penghasilan utama mereka sejak tahun 2003, dan dikerjakan oleh setiap rumah tangga di sana.    

Lingkungan yang bersih tentu menjadi syarat utama yang harus dikerjakan demi melihat anak-anak kita tumbuh sehat. Dan orang  dewasa, orang tua harus ikut ambil bagian dalam proses itu. Penting bagi setiap orang menyadari bahwa sampah yang kita buang hari ini apalagi dengan sembarangan akan menghancurkan bumi yang akan dihidupi anak-anak dan cucu kita kelak. Merekalah pemilik masa depan, dan kita tidak seharusnya mewarisakan sampah pada mereka.

Jika tidak di daur ulang hari ini, sampah  tetap menjadi sampah di masa depan. Bahkan jauh lebih berbahaya. Karenanya, kenapa harus menunggu lama untuk memperbaikinya. Mengurus sampah kita sendiri, adalah bentuk tanggung jawab paling nyata terhadap masa depan bumi yang semoga berumur panjang. Dan langkah yang paling sederhana adalah mengolah sampah kita sendiri dari rumah bersama anak-anak kita.

Agustus 2018



[1] https://lingkunganhidup.co/sampah-plastik-indonesia-dan-dunia//
[2] National Geographic 06.208 Edisi Bumi atau Plastik