karena kita harus bercerita dan berbagi.

-comrade-

Jumat, 05 April 2019

11 Tahun yang Rock ‘N Roll dan Rasa Syukur Kami

Saya merasa menjadi bapak dan suami rock ‘n roll itu bukan saat bisa mengajak istri dan anak-anak nonton konser dan pulang penuh peluh.  Sebaliknya saya merasakan itu justru ketika pergi membawa tumpukan pakaian kotor di laundry self service lalu memasukkan cucian kedalam mesin dan menunggunya sampai selesai. Dan tentu saya tidak sendiri di laundry itu. Saya berjumpa banyak bapak-bapak rock ‘n roll lainnya. Mereka yang dengan nyata melawan patriarki dengan cara yang paling politik keseharian. Memutus anggapan dan mungkin ajaran jika yang harus mencuci pakaian adalah istri. Deh kurang rock ‘n roll apa itu?

Cerita tentang saya yang akhirnya rutin dan terbiasa meski sesekali agak malas melakukan aktivitas mencuci adalah bagian dari deretan cerita tentang kami yang terus berusaha membuat banyak pilihan untuk menyiasati hidup yang sepertinya selalu mengarahkan kita untuk menjadi tak berselera dengan pilihan yang hanya hitungan jari di tangan. Bagian dari ikhtiar kami untuk menikmati setiap inci kehidupan dengan cara-cara yang membuat kami bisa terus saling menyapa, berbagi harapan dan kemungkinan bersama banyak kawan dan saudara. Dan hingga kini kami masih berdiri dengan nilai-nilai seperti itu. Iya, hingga kami di 11 tahun tepat hari ini.

Hingga di 11 tahun ini kami terus bersyukur karena masih diberi kesehatan dan yang paling penting hasrat untuk meluangkan waktu memikirkan dan mengerjakan banyak mimpi-mimpi kecil tentang kebahagiaan-kebahagiaan sederhana.

Menyusun naskah pementasan lalu dipentaskan bersama, memikirkan tampakan baru KBJ lalu bersama memindahkan lemari dan perkakas KBJ yang tak seberapa, bercita-cita punya kebun kecil lalu kita mencangkul dan mananaminya bersama, membayangkan Suar dan Maha tumbuh dengan cara belajar yang tak hanya mengandalkan sekolah lalu kita pikirkan dan kita berusaha istqomah berbagi peran menjadi pengajar yang baik bagi mereka meski saya selalu seolah menyerah, membayangkan anak-anak bisa tumbuh bersama ruang bermain yang sehat lalu kita mewujudkan agar teater anak menjadi nyata dan banyak mimpi-mimpi kecil lain yang akhirnya terwujud dan membuat kita tersenyum bahagia.

Pilihan-pilihan yang kami jalani hingga 11 tahun hari ini tentu tak selalu mulus dan mudah dijalani. Ada masa dimana bayangan untuk menyerah datang menyergap dan seolah tak ada pilihan selain menyerah kalah dan kembali jalur aman dan nyaman. Tapi saya terus bersyukur karena dikaruniai pendamping yang tidak hanya menguatkan tapi darinya gagasan-gagasan yang seringkali tak terpikirkan oleh saya lahir. Ia pembelajar yang luar biasa, darinya saya belajar soal keberanian yang menyelamatkan.

Terima kasih komrad untuk 11 tahun yang rock n’ roll ini. Semoga kita selalu istiqomah.

Kamis, 21 Februari 2019

Suar Memang Layak Jadi Frontman


Saya sependapat sama Radit, frontman Minor Bebas, yang masih percaya jika panggung bisa menjadi ruang produksi dan reproduksi gagasan. Seperti yang sering ia lakukan di banyak panggung Minor Bebas. Berbagai macam kritik atas persoalan sosial yang terjadi di sekitar serta sesekali mengajukan alternatif jalan keluar dan tentu diselingi ocehan receh nan sarkas dilakoni Radit ditas panggung sebagai bentuk afirmasi atas apa yang ia yakini soal potensi panggung sebagai ruang transformasi.

Selain Radit, saya tentu mengidolakan Farid Stevy, frontman FSTVLST, untuk urusan mengubah panggung menjadi serupa podium agitasi dan propaganda kebajikan-kebajikan sederhana dengan luapan kritik tipikal yang tak berniat menjadi nabi. Dan tentu masih banyak nama lagi yang punya caranya sendiri-sendiri menjadikan posisi frontman di band tidak hanya sebagai mesin ucapan terima kasih untuk sponsor dan pelaksana acara dan mesin produksi pujian bagi penonton.

Tapi ini urusan selera dan cara pandang saja sih, jadi ditempat lain saja dibicarakan. Toh, Cholil ERK tidak terlalu banyak bicara diatas panggung namun tak ada yang menyangsikan jika ia salah satu frontman band di republik ini yang punya hampir semua kriteria sebagai seniman sekaligus aktivis sosial. Tak percaya? Silahkan manfaatkan google-mu dengan baik. Meski saya tetap suka sama frontman yang “cerewet berfaedah” diatas panggung.

Dan kriteria “cerewet” ini, meski belum sampai taraf benar-benar “berfaedah”, saya kira dimiliki Suar. Bukan Suar ex-vokalis Pure Saturday yah, tapi si bungsu saya Suar Asa Benderang. Dan yang tak kalah penting dari potensi cerewetnya ini karena ia berani menunjukkannya. Satu hal yang hingga kini masih terus diupayakn oleh kakaknya, maha. Suar tak akan sungkan-sungkan memanfaatkan setiap kesempatan dan panggung untuk menunjukkan hal-hal yang ia bisa. Seperti akhir minggu lalu misalnya.

Hari minggu kemarin, bersama beberapa anak-anak kompleks yang sering ikut latihan Teater Anak Ketjil di Kedai Buku Jenny mengikuti Lomba Mewarnai yang diadakan oleh Lembaga Lingkar bekerjasama dengan Pengurus Vihara Sasanadipa. Kegiatan ini memang dilakukan di Vihara Sasanadipa yang bertempat di bilangan Jalan Gunung Lokon Makassar.

Di akhir acara ini, panitia membagikan banyak hadiah bagi puluhan anak-anak peserta lomba mewarnai setelah sebelumnya mereka juga dihibur dengan dongeng, cerita rakyat yang diiringi sinrili’. Si kakak pendongeng yang diberi kesempatan untuk membagikan beberapa hadiah yang telah disiapkan panitia lalu mempersilahkan siapa saja yang berani naik ke atas panggung tanpa instruksi melakukan apa pun. Bebeapa anak langsung mengacungkan jari dan dari belakang saya menyaksikan Suar yang berada disebelah kiri panggung juga ikut mengacungkan jari meski agak tak terlihat karena posturnya yang kecil.

Dulu, kesempatan seperti ini biasanya kami agak susah berharap kakak maha punya keberanian untuk hanya sekadar unjuk jari. Ia cukup lama mempertimbangkan ini itu untuk mengambil keputusan dan seperti biasa, telat. Tapi kini Suar menggenapi kakak maha. Ia selalu punya cara untuk memanfaatkan panggung menjadi ruang untuk menunjukkan jika kesempatan tak selalu datang, maka jika ia ada didepan matamu manfaatkanlah untuk hal-hal baik dan menggembirakan dirimu dan orang lain.  

Setelah ditunjuk si kakak pendongeng, Suar lalu dengan lincah berlari kecil menuju depan panggung. Setelah memperkenalkan nama dengan benderang seperti namanya, Suar lalu ditanya perihal apa yang akan ia lakukan. Dengan tegas ia jawab kalau ia akan menyanyi.

Saya dan ibunya maha yang dari belakang bersama orang tua lain yang menyaksikan mendengar kesanggupan Suar untuk menyanyi itu lalu saling berbisik khawatir jangan-jangan ia memutuskan untuk mendendangkan lagu Selow milik Via Vallen. Lagu yang belakangan sering Suar dan Maha nyanyikan untuk membuktikan kalau mereka juga gaul dengan anak-anak kompleks sepantaran yang bakal mengkonsumsi apa saja yang mereka dengar. Atau kami membayangkan Suar dengan bangga menyanyikan salah satu lagi dari mini album Kapal Udara yang tiap hari ia putar di rumah.

Tebakan kami tak ada yang tepat. Siang itu Suar sok imut. Saat ditanya mau nyanyi apa, dengan suara minor ia jawab, lagu Balonku. Sontak saya dan ibunya maha bertepuk tangan sambil mengucap syukur dalam hati karena Selow akhirnya tak jadi pilihannya. Sepulang dari acara itu dan membawa hadiah bantal karena keberaniannya maju kedepan dan bernyanyi, kami bertanya kenapa ia tak menyanyika lagu Kapal Udara. Suar lalu menjawab jika ia takut nanti kakak-kakak yang di depan panggung dan anak-anak peserta lomba mewarnai selain kakak maha tak mengenal Kapal Udara dan tak menikmati lagu yang ia nyanyikan. Benar-benar argumentatif dan akkala’.

Dan karena itu semua, Suar bagi kami layak jadi frontman untuk project apa saja bersama kakak maha kelak. Dan kami bahagia karenanya.

Chayo Suar.

Bapak Mahasuar
21 Feb 2019
Rencananya mau pulang ke Bone

Selasa, 19 Februari 2019

Maha, Piala dan Kami Yang Sangat Berbangga

Minggu kemarin, adalah salah satu akhir pekan yang gemilang.  Maha menerima gelimang puja, elu dan tepuk tangan atas usaha yang tidak biasa. Mendapat 2 piala dalam dua hari, seketika membuat Maha menjadi spot cerita dalam akhir pekan kami. 

Seminggu lalu, setelah berdiskusi, diberi pertimbangan, Maha menerima ajakan kami untuk mengikutkan puisinya dalam lomba cipta puisi. Walau rutin menulis, Maha tidak pernah mencoba menulis puisi. Beberapa kali dia bertanya tentang aturan puisi dan bagaimana sebaiknya menulis puisi. Awalnya saya kesulitan, tapi saya mengarahkan Maha membaca beberapa buku puisi di perpustakaan. Saya lupa apa yang membuat susunan kata disebut puisi, atau saya mungkin tidak percaya diri menjelaskan pada maha tentang puisi yang saya pahami. Dalam diskusi, saya bilang begini "puisi itu memadatkan cerita maha" dan justru membuatnya semakin bingung. Akhirnya saya bilang " tulis saja dulu". 

Cara itu ternyata ampuh buat Maha, dia tidak perlu terbatasi dengan aturan yang selama ini dia kenal lewat pelajaran Bahasa Indonesia di sekolahnya atau puisi yang biasa ia bacakan d panggung teater.

"Kalau saya menulis tentang pagi, bisa? " Saya mengangguk dan bertanya
 "kenapa pagi?"
"Pagi itu kaya susah tapi bahagiaki" saya mengangguk dan membiarkannya menulis.

Sekitar 1 hari 1 malam, dia mengerjakan puisinya. Sampai dua malam berikutnya, dia menyetor puisi yang ia tulis. Saya membaca dan menandai beberapa kata yang menurut saya tidak penting. Kami sama-sama mendiskusikan, tentang kenapa kata itu harus ada atau tidak. 

Ada beberapa kata yang diganti kata lain, ada beberapa kata yang dia ngotot harus tetap ada dengan pertimbangan dan sudut pandangnya sendiri. Setelah proses editing, kami membaca kembali karyanya. Dia puas dan meminta saya mengirimkannya.

Lalu, tidak jauh berselang, selepas pulang sekolah, Maha dengan riang menyatakan kalau dirinya ditunjuk  mewakili sekolah untuk lomba menggambar. Saya heran pasalnya Maha jarang menunjukkan bakat menggambarnya  di sekolah.  Apalagi untuk pelajaran kesenian. Dia tidak terlalu senang jika harus menggambar atas titah orang lain. Dan dia selalu kesal, karena tema gambar selalu "pemandangan". 

Takjub sekaligus gembira, karena dia mau berpartisipasi, dan menurutnya ini bisa jadi momentum memperlihatkan bahwa ada jenis gambar lain yang juga bagus, tidak melulu pemandangan. Ia sudah membayangkan apa yang akan digambarnya.

Namun, sayang. Keesokan  harinya, Guru pembinanya memberi bocoran bahwa tema yang akan digambar adalah pemandangan. Ia pulang dengan lesu dan pesimis.

Saat begitu, maha hanya perlu diajak bicara, seperti anak-anak lainnya saya biasanya hanya perlu membantunya melihat dari sudut pandang yang lain.
" Kenapa maha tidak berusaha menggambar pemandangan?" 
"Menurut ibu, maha tidak kalah jagonya jika mau sedikit latihan" 

Begitu saya mengulang-ulang sampai akhirnya dia teringat, saat liburan kemarin dia bersama Puang Ana dan Aira menghabiskan banyak waktu libur dengan menggambar menggunakan crayon sebagai latarnya. Saya tidak tahu, teknik apa namanya. Mereka menggunakan gradasi warna lalu menambahkan gambar serupa siluet. 

gambar saat maha latihan
Dengan ragu, Maha memutuskan menggunakan metode itu. Kami mendukungnya dan menyemangatinya. Berbekal mesin pencari google, maha semalam sebelum hari lomba, giat berlatih. Dia kelihatan tidak puas dengan gambarnya, lalu membuat gambar lagi. Beberapa kali. Hingga waktu tidurnya tiba, maha kelihatan tidak puas dengan apa yang ia usahakan. 

Selama ini Maha memang terpaku pada metode menggambar sketsa dengan manusia sebagai objek utamanya. Dia hanya suka menggunakan pulpen atau pensil dan  tidak terlalu senang dengan warna. Karenanya ia selalu ogah saat lomba mewarnai. 

Pagi, sesaat sebelum pergi saya memberi kesempatan lagi untuk mencari inspirasi untuk gambarnya. Lalu, akhirnya Ia dapat satu pemandangan senja di pinggir pantai dengan pohon kelapa dan orang yang sedang berjemur. Dia mantap memilih gambar serupa.

Tidak saya sangka, maha pulang dengan berita kemenangan. Dia senang karena cara menggambar tersebut membuatnya terpilih sebagai juara. Kegembiraannya berlipat-lipat karena ia akan menerima piala saat upacara bendera hari Senin. 

Kami tidak berhenti berdecak kagum, tidak berhenti memuji kecakapannya, tidak berhenti mengingatkan bahwa ia bisa menggambar apa saja jika ia mau.  
Kami,  semua. 


Tidak lama setelah berita bahagia itu, kabar tentang puisinya juga kami terima. Juara 3. Kebanggan, kebahagiaan kami berlipat ganda. 

Lalu, Suar bagaimana? Suar merayakan paling heboh dengan caranya sendiri. Berteriak, bertepuk tangan, dan mengelu-elukan Kakak Maha. Ia justru kelihatan paling berbahagia. Tapi, disela puja-puji untuk kakaknya, dia dengan berani mempercayai dirinya bahwa ia juga pernah juara. Cerita prestasi maha hari ini akhirnya diselingi dengan cerita Suar yang ia ingat atau yang ia bayangkan tentang prestasinya di sekolah atau di rumah.

Piala Maha hari ini adalah perayaan atas proses yang kami lewati bersama sebagai tim, sebagai keluarga, sebagai partner diskusi, sebagai ruang belajar yang harus terus direproduksi. 

Kami menyemangati menyoraki MahaSuar untuk tiap piala, tiap piagam, tiap prestasi, tiap usaha, tiap langkah yang mereka usahakan dengan baik dan membantunya merayakannya dengan cara yang sederhana. 
Tidak ada yang lebih membahagiakan saat anak-anak tumbuh bahagia dengan apa yang ia miliki lalu mensyukuri dan merayakan setiap usaha yang mereka kerjakan. Sekecil apapun itu. 

Selamat, Maha Suar. Great job as always

ibumahasuar
20 Februari 2019

Jumat, 08 Februari 2019

Suar, Cukur Madura dan Sebuah Pengakuan

Kisah ini saya ceritakan sekaligus sebagai pengakuan atas khilaf yang telah saya lakukan ke anak saya sendiri yang paling bungsu, Suar Asa Benderang. Semoga kelak saat ia membaca kisah ini dia bisa memahami kekeliruan yang telah saya lakukan kepadanya secara tak sengaja tentunya dan kemudian memaafkan saya.

Jadi ceritanya bermula beberapa waktu lalu saat kakak maha berhari-hari tidak pernah membasahi kepalanya karena takut mengenai titit-nya yang barusan dikhitan. Karena tidak pernah dishampo kepalanya begitu gatal dan kami memprediksi selain karena kotembenya yang semakin tebal, sepertinya kutu-kutu jahanam itu kembali menghuni di kepala kakak.

Dan benar saja setelah sisir kutu beraksi puluhan kutu berjatuhan diatas kertas putih yang ditaruh dibagian bawah kepala kakak. Aksi pembasmian kutu berlanjut ke kepala Suar yang hampir pasti juga diserang oleh kutu-kutu rambut itu. Pasalnya setiap malam Suar tidur bersebelahan dengan kakak maha. Dan benar meski yang kami dapat tidak sebanyak yang berada di kepala kakak.

Setelah pagi pembasmian itu, kami bersepakat kalau kakak maha dan Suar harus segera dicukur pendek. Dan dari sinilah awal mula kekhilafan yang tak disengaja itu terjadi.

Sejak menghuni Kompleks Wesabbe empat tahun lalu, tempat kami cukur rambut berpindah tiga kali. Dua-duanya di Tukang Cukur Madura. Yang pertama Tukang Cukur samping Nasi Kuning Gerbang BTP yang rada kajjala’ itu. Kedua di samping gerbang Kompleks Wesabbe. Dan terakhir dan hingga kini jadi tempat cukur langganan kami yaitu Tukang Cukur yang terletak hanya beberapa meter dari gerbang jalan masuk menuju Kompleks Perumahan Dosen Unhas Tamalanrea.

Dan pagi itu saat kami bertiga sepakat untuk bercukur, tempat tujuan kami jelas yaitu Tukang Cukur Madura Perdos.

Tukang Cukur di Perdos sebenarnya ada dua. Selain yang dekat gerbang juga ada yang berada dekat STIK Nani Hasanuddin. Namun yang kedua ini tak pernah kami pilih sebagai tempat cukur kami hingga pagi yang tak bakal saya lupakan itu dating.

Tempat cukur yang menjadi langganan kami penuh. Biasanya kami rela antri menunggu tapi pagi itu kami segera bersepakat ke tukang cukur dekat gerbang esabbe namun kondisinya sama. Penuh dan antrinya panjang. Akhirnya kami kembali ke Perdos dan memilih untuk cukur di tempat yang tak pernah kami pilih sebelumnya.

Saat kami hendak masuk di tempat cukur itu hanya ada satu anak yang sedang dicukur. Kondisi yang agak berbeda dengan dua tempat cukur yang kami datangi pagi itu. Kondisi yang membuat saya agak ragu tapi kami sudah kadung berada disitu jadi bismillah saja.

Setelah si anak yang bercukur sebelumnya selesai, Suar menjadi yang pertama diantara kami bertiga yang dicukur. SI tukang cukur yang ramah dan detail menanyakan seperti apa bentuk cukuran yang saya mau untuk Suar membuat saya merasa tidak salah memilih tempat cukur ini. Instruksi saya sebenarnya tidak cukup detail, prinsipnya pendek dan tidak botak licin. Si tukang cukur senyum pertanda memahami instruksi saya setelah memastkan beberapa hal terkait model cukur Suar.

Selama cukur, si tukang cukur juga cukup interaktif dengan Suar dan sesekali ke saya yang duduk di belakang memastikan cukuran Suar tidak keliru. Karena instuksinya cukur pendek jadi waktu cukurnya tidak terlalu lama. Namun saya tidak detail disaat-saat akhir. Dan disitulah kesalahan fatal itu terjadi.

Si tukang cukur balik bertanya kepada saya disaat finishing cukuran Suar. Begini saja Pak? Tanya si tukang cukur. Saya lalu mendekati Suar dan memastikan semuanya apakah sudah oke atau ada yang masih perlu diperbaiki. Lalu pandangan saya terfokus ke bagian depan rambut Suar. Saya merasa ada yang aneh dan belum rapi. Saya lalu menunjuk bagian yang menurut saya belum rapi itu dan memberi intruksi agar dirapikan dengan memberi gerakan tangan setengah lingkaran di kepala Suar. Instruksi itu sebenarnya tidak jelas tapi saya piker si tukang cukur pasti mengerti. O iya, sebelumnya si tukang cukur sempat bertanya apakah mau dikasi poni. Saya tentu menolak dan akhirnya memberi intruksi berupa gerakan tangan itu.

Naasnya si tukang cukur menerjemahkan instruksi saya secara nyata dan plek. Itu saya sadari saat saya melihat Suar dari cermin. Tiba-tiba wajahnya aneh karena bagian depan rambutnya berbentuk setengah lingkaran yang aneh. Mirip-mirip pemeran di Star Trek pikirku. Dan dalam beberapa waktu saya langsung merasa lemas. Setelah turun dari kursi cukur berkali-kali saya memandangi wajah Suar memastikan apa yang salah hingga kemudian saya menyadari kalau kesalahan ini dari saya.

Maha yang cukur setelah itu saya pastikan tidak mengalami kejadian naas seperti SUar sebelumnya. Ia saya persilahkan memilih model cukur yang tertempel di dinding tempat cukur. Dan ketika dibagian akhir si tukang cukur bertanya apakah bagian depan rambut maha mau dicukur juga seperti Suar, cepat saya jawab tidak dan lag-lagi penyesalan saya datang menyerang sambil melihati kembali wajah Suar diseelah saya yang tampak aneh.

Setelah saya selesai cukur kami pulang dan kisah ini tidak pernah saya ceritakan ke siapa-siapa meski Ibunya maha sempat bertanya kenapa model cukur Suar agak aneh. Lucu sebenanrnya namun kami tak pernah mengatakan itu di depan Suar. Semoga kelak Suar memahami.

Tiba-tiba saya kembali mengingat pesan dosen saya di Jogja dulu, “there’s always devil in details.”

Sekali lagi maafkan bapakmu yang keren ini Suar.

Wesabbe, 9 Februari 2019
Tolak RUU Permusikan