Surat Permintaan Sepele Buat Pure Saturday dari Makassar
Hai Pure Saturday.
Perkenalkan saya Bobhy, ayah dari dua jagoan kecil, dari Makassar. Saya mungkin salah satu dari sedikit generasi ‘90an yang tidak terlalu beruntung bisa mengenal dan menyaksikan jatuh bangunnya kalian sejak dari Gudang Cokelat kemudian menelurkan album bertajuk Pure Saturday (1996) dan Utopia (1999) hingga akhirnya kabar buruk hengkangnya Suar saat band sedang dalam masa emas nya.
Saya baru mengenal kalian, di pertengahan tahun 2000-an. Itu pun hanya dari lagu fenomenal kalian, Kosong. Oh iya, suatu waktu seorang teman saya bercanda soal lagu Kosong ini. Katanya, kelak di akhirat nanti kita akan diperdengarkan intro Kosong dan yang tidak bisa menebak judul lagu itu akan segera dilempar ke neraka…hahaha…sebegitu fenomenalnya lagu itu bagi kami.
Setelah perkenalan dengan Kosong, entah melalui tangan dan laptop siapa, baik legal maupun copy file tak berizin hasil ripping sana sini, akhirnya semua lagu dari album Pure Saturday hingga Elora nangkring manis di PC saya. Sejak saat itu mimpi bisa menonton langsung penampilan kalian saya gantungkan (meski) tak terlalu tinggi dan berharap bisa mewujudkannya entah kapan.
Di akhir 2010, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke kota penuh kemungkinan-kemungkinan, Jogjakarta. Mimpi untuk bisa menyaksikan live band kalian tentu tak pernah saya kubur. Sebaliknya, saya yakin sekali jika Jogja akan mewujudkan mimpi saya. Dan akhirnya, di awal April 2012, kabar baik pun datang menghampiri dengan manisnya. Sebuah distro terkenal di Jogja menghelat perayaan ulang tahun yang entah keberapa dan puncaknya adalah suguhan ben-benan. Dan salah satu lineup nya adalah kalian.
Kalian mungkin masih mengingat malam itu. Malam yang benar-benar keos tapi membahagiakan. Saat stage diving dan moshing menjadi warna mencolok pertunjukan. Dan pelakunya adalah para Pure People yang datang untuk bernostalgia ke era 90-an saat mereka masih duduk di bangku sekolah menengah atas atau masa-masa awal kuliah sambil membawa sisa-sisa energi masa muda. Malam itu adalah salah satu malam terindahku di Jogja.
Usahaku untuk mengenal kalian lebih jauh tak berhenti disitu. Beberapa bulan setelah pertengahan tahun 2013, saya bersama teman-teman menggelar bedah buku Pure Saturday : Based on a True Story karya Idhar Resmadi pada gelaran musik bulanan, KBJamming, yang dihelat Kedai Buku Jenny. Gelaran yang kali itu bertajuk It’s Pure Saturday sekaligus adalah perayaan ulang tahun kalian yang ke tujuh belas kalau tak salah.
Gelaran ini menjadi menarik, paling tidak bagi saya, selain karena kami bisa ikut memberi apresiasi atas karya penting Idhar untuk dokumentasi musik nasional ini dan apalagi saya bisa menjadi salah satu pembedahnya, juga karena helatan ini diawali dengan usaha keras kami untuk mencari jejak Pure Saturday di Makassar. Jadi kabarnya di awal band kalian mulai dikenal, salah satu Fakultas di Unhas pernah mengundang kalian untuk manggung di Unhas. Pencarian jejak itu kami lakukan dengan menemui beberapa orang yang mungkin bisa memberi cerita soal kabar itu. Bahkan, kalau masih ingat, kami sempat bertanya di akun twitter kalian soal siapa kira-kira yang bisa kami tanyai soal informasi itu. Orang yang kalian rekomendasikan ternyata tak memberi jawaban sampai akhirnya gelaran itu dihelat. Meski akhirnya tak mendapat kabar pasti, tapi saya pribadi sangat senang dengan proses itu.
Tak lama setelah cerita berakhir manis di It’s Pure Saturday, di penghujung tahun kabar baik yang lain menghampiri Makassar. Kalian akhirnya manggung di sebuah gelaran akhir tahun yang dihelat oleh sebuah distro baik hati di penghujung 2012. Kabar tak sedapnya karena saya tak bisa ikut serta di keriuhan gig sederhana malam itu karena perjalanan dari Bone ke Makassar ternyata tak semulus dan setepat waktu perkiraanku. Saya tiba saat malam sudah benar-benar tua. Akhirnya saya hanya bisa mendengar cerita keriuhan malam itu dari beberapa kawan sambil sesekali berusaha menutup telinga karena iri..hehehe…….
Sejak peristiwa di akhir tahun 2012 itu, saya hanya bisa gigit jari melihat poster yang wara-wiri di berbagai media sosial saat kalian manggung di kota-kota lain sambil merapalkan doa dalam hati ada EO berselera musik baik atau anak baik hati nan tajir dengan referensi musik berselera dari kakaknya bersedia mengundang kalian untuk manggung lagi di Makassar. Akhir tahun kemarin, di depan sebuah warkop yang baru saja dibuka dengan diskusi tentang the Beatles, seorang kawan yang juga adalah gitaris kidal idola saya memberi kabar baik itu. Kalian akan manggung bersama Sore di sebuah Pensi SMA di awal Februari 2015. Setelah memastikannya berkali-kali akhirnya ucap syukur kembali terhatur dalam hati. Segera saja kabar itu kusampaikan ke seantero kota…hahaha….
Menunggu sesuatu yang indah pasti selalu terasa lama. Begitu juga menunggu awal Februari, hari yang dijanjikan. Beberapa kawan sudah mempersiapkan apa-apa saja yang akan dia lakukan saat menonton penampilan kalian nanti. Dan di sela penantian itu, Kompas TV memberi kado indah di awal tahun bagi kami dan tentu bagi para Pure People di seantero jagad. Pada program Jazzy Night, kalian akhirnya benar-benar menjadi penawar rasa rindu di sela penantian yang mendebarkan.
Beserta beberapa teman, kami nonton bareng tapi tidak di tempat yang sama. Melainkan di rumah masing-masing. Dan tumpahan kebahagiaan dari setiap lagu kami curahkan di akun group LINE sebuah band shoegaze kota ini yang begitu kami banggakan. “Anjrit...biar nonton di tv naikji juga adrenaline,” begitu ekspresi seorang kawan saat “Desire” mengalun membuka tayangan malam itu. Setiap lagu yang dimainkan, kami komentari atau sesekali menuliskan potongan liriknya untuk menguji sekaligus “menyombongkan” hafalan liriknya. Bahkan kami sempat berdebat saat “Spoken” dibawakan. Seorang kawan bertanya lagu ini ada di album mana. Ada yang menjawab di album pertama, tapi yang lain menyanggah kalau lagu itu ada di album yang Time For A Change. Sampai akhirnya mas google datang membantu ingatan kami kembali. Perdebatan berakhir dan kami kembali konsentrasi ke lagu-lagu berikutnya.
Saya sendiri malam itu benar-benar berbangga karena bisa menang tebakan. Jadi setelah lagu ketiga, kalau tak salah, saya mengajukan tantangan siapa yang bisa menebak lagu keempat yang akan kalian nyanyikan setelah jeda iklan. Ada yang menjawab “Di Bangku Taman,” “Kosong”, “Pathetic Waltz”, “Nyala”, dan saya sendiri menjawab “Pagi.” Dan jawabanku benar. Hahahaha...Saya berbangga.
Setelah malam yang lagi-lagi menyenangkan itu, kami kembali menunggu. Dan tadi malam saya mengabari ke beberapa teman kalau tiket untuk Pensi yang menjadikan kalian sebagai lineup nya akan dibawakan besok (baca: hari ini) ke tempat saya dan saya mewanti-wanti mereka untuk segera datang dan membawa uangnya karena Senin lusa harga tiket Pensi ini akan naik. Dan mereka berlomba-lomba memastikan akan segera datang besok pagi. Kami benar-benar menunggu!
Pagi tadi saat matahari belum lagi menampakkan wajahnya, dan saya baru saja menunaikan ibadah, seperti sebelum-sebelumnya kabar tentang kalian datang tiba-tiba dan membuat saya terperanjat. Namun kali ini tak seperti sebelumnya, setelah membaca kabar itudari seorang kawan juga di group LINE yang sama, tiba-tiba awan hitam langsung menanungi pagiku. Istriku yang baru saja terjaga adalah orang pertama yang kuberitahu. Dengan nada sedih kukabarkan kalau Adhi dan Udi, dua orang yang ikut membangun band kalian, telah memutuskan untuk keluar dari band karena sesuatu yang diyakininya.
Tak berapa lama group LINE itu berisi ungkapan kesedihan. Dan ini kali pertama group itu berisi kesedihan yang kelam.
Surat ini tentu tak akan mengubah apa-apa, apalagi sampai merubah keputusan mendadak yang sudah dibuat si kembar untuk hengkang dari Pure Saturday. Apalagi karena ini menyangkut perjalanan spiritual si kembar. Sesuatu yang susah diganggu gugat. Tapi kalaupun misalnya surat ini sampai dihadapan kalian, saya mewakili yang lainnya memohon agar si kembar dibujuk untuk “mengakhiri” perjalanannya bersama PS saat manggung di Makassar tanggal 7 Februari nanti. Paling tidak ini akan sedikit menghibur kami yang sudah lama menunggu kalian datang lagi ke kota ini.
Kami sedih.
*Tulisan ini sebelumnya pernah dipublikasi oleh Jakartabeat pada Februari 2015
Foto by Official Pure Saturday (Backstage Pensi SMA 11 Makassar @ Triple C)



Komentar
Posting Komentar