(Bukan) Post Fami_ Efek: Catatan Singkat Tentang Geliat Skena Musik Makassar di 2014
Perkembangan dan kemajuan sebuah kota selalu saja menyediakan banyak penanda. Penanda-penanda itu seringkali berupa kemegahan tipikal khas tafsir sempit atas modernisasi yang berjejer –seringkali tak rapi– dan menjamuri spot-spot paling ramai di tengah kota.
Mereka juga bisa berbentuk deret angka hingga persentase tentang capaian pertumbuhan ekonomi yang fantastis namun selalu gagal menjelaskan mengapa si kecil Rinto hingga detik ini dipaksa untuk menghabiskan masa kecilnya menunggui dagangan buah tala’ nya di pinggir jembatan Racing Center hingga detik-detik kala Makassar begitu mencekam.
Sebaliknya, penanda-penanda itu juga bisa berupa sesuatu yang sering dianggap remeh temeh dan nomor dua namun di dalamnya ada cita-cita besar tentang peradaban yang tak homogen serta “berselera” dan tentu sarat akan vitamin yang dijamin membuat kita lebih “sehat” sebagai kota dan tentu sebagai manusia.
Seperti kota besar lainnya di Indonesia, Makassar dengan segala kemajuannya –apalagi dengan visinya untuk menjadi Kota Dunia– memang memanjakan indera penghuninya dengan banyak penanda yang lalu bermetamorfosa menjadi kebanggaan yang diceritakan kemana-mana. Merasa bangga karena mall dan pusat-pusat perbelanjaan nan megah kini telah hadir di seluruh penjuru mata angin kota meski penggusuran adalah hal yang niscaya karenanya. Toko-toko waralaba yang menjamur tanpa kontrol meski janji perlindungan terhadap pasar tradisional sudah terlanjur terucap. Pantai Losari telah berhasil direklamasi hingga membuat kita benar-benar rindu dengan biru laut dan desiran ombak yang menerpa karang di pinggiran pantai dan begitu menghibur telinga. Dan masih banyak kebanggaan lainnya, termasuk keberhasilan kota ini menasbihkan ruko sebagai “rumah adat” yang harus ada dimana-mana.
Tak ada yang salah dengan deret kebanggaan itu, kecuali bahwa kebanggaan itu terlalu biasa-biasa saja dan parahnya karena di saat yang sama mereka para bangga itu justru sedang menganggap remeh kota sekelas Makassar yang sejak berabad-abad lalu telah tumbuh bersama etos kosmopolitanisme sehingga membuatnya begitu dibanggakan dan diperhitungkan dalam kadar yang tak biasa tentunya.
Lalu benarkah kebanggaan atas Makassar hanya bisa diperoleh dari senggama kota dan akumulasi kapital yang banal?
Sebenarnya tak perlu seletih dan sepasrah penonton tivi nasional yang saban malam tabah di depan televisi meski hanya disuguhi musik dangdut yang kualitasnya jauh dibawah produksi suara Erie Susan. Kita cukup bekerja keras sedikit untuk menemukan kebanggaan-kebanggaan kota ini dari mereka yang berkarya justru bukan untuk kebanggaan itu sendiri. Dan mereka ada di mana-mana.
***
Sekitar pertengahan tahun lalu, saya dikirimi surat elektronik via Facebook oleh pihak Elevation Records yang rencananya bakal segera merilis EP Fami Redwan (Fami_), dan ia bertanya siapa yang kira-kira bisa menulis liner notes untuk album tersebut. Tanpa ragu-ragu, saya lalu mengajukan diri. Bisa berkontribusi untuk karya seorang vokalis –The Hotdogs– band punk “tua” idola kota ini pasti akan sangat membanggakan. Hanya itu alasan yang berseliweran di kepala saya saat itu.
Tak lama setelah itu, EP Fami_ yang bertajuk International Bitter Day dirilis secara nasional dalam bentuk kaset dan beberapa bulan kemudian dalam bentuk CD plus liner notes yang kutulis dengan susah payah. Sambutan dan apresiasi atas rilisan ini begitu luar biasa. The Jakarta Globe menyebut karya Fami_ sebagai album yang eklektik, Geo Times menyanjung EP yang dianggap telah membawa Punk ke ranah yang lebih tinggi. Tak sampai di situ, pada penghujung 2014 Majalah Rolling Stone Indonesia (RSI) edisi Desember memasukkan International Bitter Day sebagai salah satu album rilisan lokal yang mendapat apresiasi tinggi dengan poin tiga setengah bintang. Sekedar info, poin serupa juga diberikan kepada Foo Fighters untuk rilisan terbaru mereka, Sonic Highways.
Sebulan setelahnya, kabar menggembirakan kembali datang lagi dari RSI yang memasukkan album EP Alkisah milik Theory of Discoustic (TOD), band folk asal Makassar, dalam urutan pertama album dan lagu pilihan editor majalah yang berbasis di Negara Paman Sam tersebut. Selain karena kualitas musiknya, menurut saya TOD menjadi tak biasa karena kemampuannya untuk menginiasi reproduksi media (alternatif) komunikasi budaya. Karya-karya TOD berisi interpretasi –bukan menyanyikan kembali– mendalam tentang nilai yang berada dalam cerita dan legenda Bugis-Makassar dengan cara “anak muda.”
Pencapaian kedua musisi ini memang patut diberi acungan jempol. Tidak hanya karena mereka berasal dari Makassar, namun lebih jauh karena pencapaian ini tentu akan memberi aura baik bagi skena musik Makassar yang sedang bergeliat. Geliat ini paling tidak bisa dilihat dari banyak sisi yang selama ini memang menjadi serupa evaluasi bagi skena musik Makassar. Mulai dari soal pertunjukan yang menyediakan panggung bagi para musisi lokal hingga karya yang diproduksi.
Sepanjang 2014, begitu banyak pertunjukan yang menghadirkan band-band dan musisi lokal sebagai line-up nya. Pertunjukan tersebut pun tidak hanya dihelat di panggung-panggung besar seperti Rock in Celebes yang rutin dihelat setiap tahunnya, namun juga bisa kita temui dengan frekuensi yang cukup sering di spot-spot “penuh buku” dengan panggung minimalis seperti Kedai Buku Jenny (KBJamming) dan KataKerja (Menyimak).
Beberapa pertunjukan juga dikemas dengan nuansa yang berbeda, ada Musik Hutan misalnya yang dikemas dengan nuansa liburan akhir pekan atau yang mengusung tema yang lebih serius seperti gig solidaritas bertajuk Save Satinah yang digelar di Kedai Buku Jenny dan menghadirkan 15 band lokal lintas genre sebagai bentuk solidaritas atas vonis hukuman mati bagi Satinah. Atau pertunjukan musik berkelas seperti Bunyi-Bunyian Perhalaman hasil inisiasi Rumah Budaya Rumata Art Space dan Vonis yang berisi presentasi karya, dimana musisi yang dihadirkan tidak hanya menyuguhkan karya-karyanya namun juga menjelaskan secara terperinci terkait karya tersebut. Dan catatan penting untuk panggung musik selama 2014, bahwa kampus kembali menjadi tempat yang ikut menyuburkan perkembangan skena lokal. Berbagai kegiatan kampus yang biasanya hanya diisi oleh UKM Seni atau band-band kampus, kini juga menghadirkan band-band indie lokal.
Satu hal yang ikut mempengaruhi lahirnya begitu banyak panggung-panggung musik adalah semangat untuk berkolaborasi. Hampir semua penggiat komunitas kreatif di kota ini menjadikan musik sebagai bagian tak terpisahkan dari kegiatan yang mereka adakan. Beberapa pameran foto yang digelar di Kampung Buku misalnya pasti menjadikan suguhan musik sebagai bagian tak terpisah dari pameran tersebut. Pameran karya yang dihelat oleh para perupa muda yang mulai unjuk gigi pun demikian.
Yang terbaru di akhir tahun misalnya, belasan perupa muda menggelar pameran bertajuk Diam-Diam Suka, menghadirkan beberapa band lokal sebagai penyempurna gelaran tersebut. Dan sebaliknya, telah menjadi lazim kini jika di sebuah gelaran musik anda menemukan lapakan buku atau pameran mini karya-karya foto maupun artwork lainnya. Dan fenomena ini benar-benar menyehatkan.
Soal produksi karya atau album, tahun 2014 cukup menjadi tahun yang cukup produktif bagi penggiat skena musik lokal. Selain TOD dan Fami_ yang masing-masing merilis EP Alkisah dan International Bitter Day, terdapat beberapa rilisan (yang didokumentasikan rapi oleh musisi cum jurnalis, Achmad Nirwan) lain seperti Eddington (EP EST. 2013), Paniki Hate Light (Survival), Wildhorse (Delirium EP), Critical Defacement (Crime of The Century), FrontxSide (Self Titled), Galarasta (Man In Love), High Voltage (High Voltage EP), dan Album Kompilasi bertajuk Sorak Suara Kontra Kotak Suara.
Pencapaian TOD dan Fami_ sekali lagi sangat layak untuk dibanggakan, namun pencapaian yang dihasilkan dari geliat para pelaku dan siapa saja yang mendukung gerak berkembangnya skena musik lokal juga sangat pantas diapresiasi. Karena kerja membangun skena lokal yang berkualitas adalah benar-benar (harus) diupayakan dan dikerjakan bersama-sama dengan semangat kolaborasi.
Selanjutnya, panggung-panggung musik dan produksi karya berkualitas yang terus direproduksi mesti dipahami sebagai bagian dari ijtihad kita bersama untuk membubuhi kota ini dengan sesuatu yang memiliki “rasa” ditengah kejumudan kolosal kota yang sedang berjalan membabi buta. Karenanya, capaian dan hasil kerja keras bersama untuk membangun skena lokal adalah kebanggaan kita, kebanggaan bersama.
Terakhir, kalau anda sudah merasa bosan dengan Coto Makassar, demonstrasi dan Pantai Losari serta apa-apa saja yang berhubungan dengan Makassar seperti yang sering diulang-ulang di tivi, saya menyarankan anda untuk sesekali datang ke gig-gig minimalis yang begitu menjamur belakangan di Makassar. Mungkin anda akan bertemu Makassar yang lain disana. Selamat mencoba !
Zulkhair Burhan
Tulisan ini sebelumnya pernah diterbitkan oleh Jakartabeat.net pada 20 Januari 2015



Komentar
Posting Komentar