Firstmoon dan Jejak Etos Indie di Album Hari Bersama
Firstmoon dan Lorong Ceria
Membicarakan jejak bermusik Firstmoon tentu mustahil tidak membicarakan sebuah lorong kecil di bilangan Jalan Cenderawasih Makassar yang berada tepat di samping bekas Gedung Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) yang diberi nama Lorong Ceria. Nama lorong ini tak anda ditemukan dalam peta resmi Kota Makassar karena nama Ceria ini hasil kesepakatan bersama para penghuninya. “Mungkin karena semua orang didalamnya ceria terus jadi dikasi nama mi Lorong Ceria” ujar Mando sambil mengumbar senyum khasnya.
Keempat personil awal Firstmoon, bertemu di lorong ini. Menjadikan lorong ini sebagai tempat ngumpul bukan tanpa alasan karena rumah Mando berada diujung lorong kecil ini. Sejak 2000-an awal, Ical (bassist), Kikoy (drummer) bersama Aco Wahab (Loka) dan Rizal (Unremains) yang memang berteman dengan Mando sudah sering berkumpul di Lorong Ceria. Saat itu mereka masih duduk di bangku SMP. Fadli sendiri bersama Echa dan Udi (Theory of Discoustic) -yang pada masa itu punya projekan band punk bersama- mulai berkenalan dan berteman dengan Mando dan personil Firstmoon lainnya ketika mereka mulai sering berada di lorong Ceria dan nonton Pensi (Pentas Seni) bersama. Itu terjadi sekitar tahun 2004 saat mereka masih duduk di bangku SMA. Dan akhirnya pada Januari 2008, mereka berempat bersepakat untuk memulai perjalanan bermusik dengan mengusung nama Firstmoon.
Lorong Ceria tidak hanya menjadi ruang tempat bertemunya keempat personil Firstmoon. Banyak nama-nama yang kini menjadi personil di beberapa band lintas genre juga adalah warga lorong ini. Nama-nama seperti Fami (The Hotdogs), Endi (Dead of Destiny), Hikma (Pemuda Garis Depan), Dian (Theory of Discoustic), Iqbal (Myxomata), Rijal (Titik Bias) adalah beberapa dari mereka yang menjadi bagian dari cerita panjang Lorong Ceria. Tidak hanya musisi, beberapa pekerja film dan desain serta teman-teman lain juga menjadikan Lorong Ceria sebagai “rumah” kedua.
“Mungkin hampir semua anak band di Makassar pernah main ke Ceria. Mungkin karena di Ceria tempatnya bikin tenang. Yang jelas di Ceria senang-senang tapi ingat pulang ji anak-anak di Ceria,” ungkap Mando sambil mengumbar senyum khasnya.
Tradisi ngumpul dan nongkrong di Lorong Ceria yang melibatkan seniman dari berbagai jalur sudah berlangsung cukup lama. Bahkan sebelum era Firstmoon. Di tahun ‘80-an beberapa seniman Makassar yang kini memiliki nama besar seperti Ram Prapanca (pelaku seni teater), atau Arman Dewarti (Meditatif Film) merupakan wajah tak asing di Lorong Ceria. Bahkan nama Arman (nama depan Mando) diberikan oleh Sang Ibu karena terinspirasi dari nama Sang Produser Film Suhu Beku, Arman Dewarti, ujar Ammang sambil tertawa. Tradisi ngumpul para seniman di Lorong Ceria ini bisa jadi begitu berakar karena kakak Mando juga adalah seorang musisi. Ia adalah personil band Athena, sebuah band beraliran thrash metal yang wara-wiri di banyak festival di era ‘90-an
Dalam perjalanannya, Firstmoon menjadi begitu identik dengan Lorong Ceria. Mungkin serupa Slank yang identik dengan Potlot. Meski demikian, Firstmoon tidak menjadi dominan. Sebaliknya yang dibangun dengan siapa saja yang menjadi warga Lorong Ceria adalah relasi yang setara atas dasar sama-sama ingin berbahagia.
“Kenapa teman-teman di Ceria bisa nyambung dan nyaman karena sama-sama suka bahagia dan musik menjadi medium untuk betah berlama-lama bercerita,” ungkap Fadli bersemangat.
Lorong Ceria memang menjadi ruang berbagi apa saja bagi siapa saja yang datang dan tidak hanya tentang musik tentunya. “Macam-macam dibahas di Lorong, mulai skena musik, ekonomi, politik dan tentu cinta,” lanjut Fadli. Intensitas bertemu, berbagi cerita kemudian mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya ikatan soliditas antara warga Lorong Ceria.
Hal ini kemudian berimbas kepada cara pandang teman-teman di Lorong Ceria terhadap aktivitas dan kreativitas yang diinisiasi atau melibatkan teman-teman di Lorong Ceria. Prinsipnya bahwa siapa pun tidak akan tinggal diam jika yang lain membutuhkan bantuan dan langsung mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing. Minimal meramaikan.
Firstmoon misalnya, akhirnya bukan lagi tentang kelima personilnya. Ia adalah tentang sebuah kerja bersama-sama dengan teman-teman di Lorong Ceria. Tak percaya? Cobalah sekali-kali mendatangi gigs atau helatan musik yang menghadirkan Firstmoon sebagai penampilnya. Hampir tidak ada panggung yang menghadirkan Firstmoon yang tidak melibatkan teman-teman yang saya tau sering nongkrong di Lorong Ceria.
Dan perlakuan ini tidak hanya dirasakan oleh Firstmoon saya kira. Titik Bias, salah satu band folk yang sedang naik daun di Makassar yang personilnya juga jadi penghuni “tetap” Lorong Ceria juga mendapat perlakuan serupa. Semua akan membantu sesuai dengan kemampuannya sendiri-sendiri. Semua ini serupa upaya untuk terus menghadirkan kebersamaan dan tentunya kebahagiaan di Keluarga Ceria.
Di lorong itu kami, Firstmoon dan teman-teman lain berteman, bersahabat lalu jadi keluarga, tutur Fadli pelan namun dalam.
Jejak Panjang Perjalanan Firstmoon
Meski baru akan merilis album perdana, Firstmoon bukan nama baru dalam skena musik independen Makassar. Setelah sebelumnya tampil bersama band dengan genre yang berbeda-beda, akhirnya pada Januari 2008 Mando, Ical, Kikoy dan Fadli bersepakat untuk jalan bersama dalam bermusik menggunakan nama Firstmoon.
Saat itu (dalam kurun waktu 2008-2009) bahkan mereka sudah memiliki lima lagu yakni Dunia Pagi, Malu, Tampil Feminin, Sahabat Harmoni, dan Tenggelam. Kelima lagu ini rencananya akan dirilis dalam bentuk album EP. Namun rencana merilis album EP akhirnya tak dapat terwujud karena kelima materi yang siap tayang itu ikut raib saat komputer salah satu personil Firstmoon terbakar sementara mereka belum sempat menggandakan file tersebut.
Peristiwa tersebut benar-benar menjadi awal masa-masa sulit band ini. Seperti kehilangan energi, masing-masing bahkan memutuskan untuk tak lagi melanjutkan band ini meski tak memutuskan untuk bubar. Fadli lalu memutuskan untuk hijrah ke Kalimantan mencoba menemukan energi baru. Beberapa personil lain, memilih untuk bermain dengan band lain atau ikut terlibat membentuk project band baru.
“Dan betul-betul terpukul sekali ki semua saat itu (red: setelah materi album terbakar). Sempat ki tidak baku omong sekitar dua bulanan. Bukan karena kita baku musuh-musuhan tapi karena kita benar-benar drop. Jadi kita takut liat temanta drop, kita juga ikutan drop. Akhirnya saya berpikir untuk keluar dulu dan cari suasana lain. Saya coba fokus ke kerjaan dan memilih pindah ke Kalimantan,” ungkap Fadli mengenang masa-masa sulit Firstmoon beberapa tahun lalu itu.
Tapi kondisi ini tak bertahan lama. Setelah beberapa tahun bersibuk ria dengan aktivitas sendiri-sendiri dan memilih untuk “mengistirahatkan” Firstmoon, akhirnya band ini kembali manggung beberapa tahun setelah mengalami hibernasi meski tak lama.
“Di Kalimantan ternyata saya bertemu juga skena ku disana. Dan itu yang motivasi ka supaya saya balik dan harus menyelesaikan album,” lanjut Fadli. Mando sendiri mengungkapkan jika sepeninggal Fadli mereka sempat main di beberapa project band namun Firstmoon tetap menjadi prioritas. “Jadi biar Firstmoon vakum, kalau ada yang tanya apa band ku pasti saya jawab Firstmoon,” jelas Mando terkait masa-masa Firstmoon menemukan spiritnya kembali.
Terkait baliknya Firstmoon, yang paling saya ingat tentu saat band ini menjadi salah satu penampil di KBJammimg edisi perdana yang dihelat oleh Kedai Buku Jenny pada Februari 2013. Saat itu mereka tampil dengat format akustik minus Kikoy yang sedang berhalangan. Dua bulan setelahnya, tepatnya pada April 2013 Firstmoon menjadi salah satu band yang ditunggu di event Malino Land yang organisir oleh Vonis Media.
Sejak saat itu, Firstmoon kembali memulai kerja bersama untuk mewujudkan kerja bersama untuk mewujudkan cita-cita merilis album yang sempat tertunda. Dan upaya ini semakin menemui momentumnya setelah Ical mempertemukan Firstmoon dengan Chapung dan menjadikannya sebagai personil tetap Firstmoon di tahun 2016. Chapung sendiri yang memang memiliki lini usaha recording pada awalnya didapuk menjadi sound engineer untuk album perdana Firstmoon.
Secara teknis, masuknya Chapung membuat proses produksi Album Hari Bersama boleh dibilang lebih sistematis dan berkualitas. Setelah semua materi siap dan rampung, Firstmoon hendak langsung masuk ke proses rekaman namun Chapung sebagai sound engineer pada awalnya memberi masukan agar dilakukan proses pre-produksi. Proses ini memang mengambil waktu sehingga proses produksi terkesan berjalan agak lama. Namun melalui pre-produksi ini, Chapung lebih leluasa mencari tahu sound seperti apa yang diinginkan atau disukai oleh personil Firstmoon.
“Dengan sound yang mereka sudah pilih dan suka, lalu saya merasa sepertinya akan lebih menarik kalau ada tambahan ambience nya ini. Akhirnya saya tambah dan keterusan mi sampai sekarang. Dari situ kemudian ditambah lagi piano lalu synth, ujar Chapung menjelaskan bagimana awalnya ia berproses bersama Firstmoon dan kemudian dipercaya menjadi personil tetap.
Nuansa ambience sendiri sebenarnya bukan hal baru bagi Firstmoon. Corak ambience sendiri pernah diujicobakan dalam lagu-lagu Firstmoon ketika Tesa (kini menjadi personil Clementine) didapuk menjadi additional keyboardist pada 2015. Dan sejak saat itu para personil merasa nyaman dengan corak yang ditambahkan ke dalam lagu-lagu Firstmoon. Makanya ketika Chapung pertama kali terlibat dalam pre-produksi, semua personil meminta agar ada atmosfir yang diciptakan dalam lagu. Chapung lalu menjawab tantangan tersebut bahkan diluar ekspektasi awal. Buktinya, setelah memasukkan corak ambience, Chapung leluasa memasukkan piano dan synth yang membuat lagu-lagu dalam album Hari Bersama semakin terasa keintimannya.
Setelah pre-produksi, semua materi kembali diulik lagi untuk memastikan bahwa semua tempo dan aransemen lagu telah sesuai yang diinginkan. Barulah setelah itu Firstmoon masuk ke proses rekaman. Proses ini pun agak tersendat karena menunggu rampungnya pembangunan Rucs Record Studio milik Chapung. Jadi sebelumnya, semua proses pre-produksi dilakukan di kamar Chapung.
Secara umum, proses setelah pre-produksi menuju recording memang berjalan agak lamban dan itu diakui oleh semua personil Firstmoon. Namun hal ini terjadi bukan tanpa alasan. Sebab Firstmoon ingin memastikan bahwa semua detail materi telah diperhatikan dengan baik dan seksama. Dalam proses ini, Firstmoon juga berupaya untuk menginterpretasi kembali materi lagu “lama” yang tetap dimasukkan dalam Album Hari Bersama.
“Saya ingat sekali, dulu temponya lagu Tenggelam dan Tampil Feminim itu cepat sekali karena dulu mau ki memang grasak-grusuk diatas panggung,” kenang Fadli.
“Maklum masih ada jiwa-jiwa hardcore sama punk-nya,” lanjut Mando yang disambut derai tawa dari personil Firstmoon yang lain.
Diakui oleh para personil Firstmoon bahwa perjalan waktu dan bertambahnya usia membuat mereka dapat melihat sisi lain dari lagu-lagu yang sudah lahir satu dekade lalu. Dan hal ini menjadi variabel utama yang mempengaruhi proses re-interpretasi lagu-lagu lama. Meski masih dengan nuansa yang sama seperti yang diakui Mando, namun tidak dipungkiri banyak revisi disana sini.
Menurut Fadli, setiap personil diberi keleluasaan untuk merevisi atau memperbaiki kualitas musikalitasnya dalam setiap lagu. Tak ada batasan karena semua karya memang dibuat bersama-sama sehingga semua personil akan berusaha menampilkan yang terbaik. Dan lanjut Fadli, ini pula yang membuat mereka bisa bertahan hingga satu dekade ini, tak ada yang merasa lebih dibanding yang lainnya. Semuanya setara.
Lorong Ceria dan Jejak Etos Indie di Hari Bersama
Tema kebersamaan dan persahabatan memang begitu kental terasa dalam album Hari Bersama. Lagu Hari Bersama yang menjadi track akhir di album perdana Firstmoon ini memang sengaja dipilih menjadi tajuk album. Bagi Firstmoon, Hari Bersama mewakili semua judul lagu dan mewakili semua kisah perjalanan band -sejak masa sekolah hingga kini saat beberapa personil telah berkeluarga- di Lorong Ceria.
Semua lagu dalam album Hari Bersama memang berlatarbelakang peristiwa yang terjadi di Lorong Ceria. Untuk lagu Tenggelam misalnya, Fadli bercerita jika lirik dalam lagu ini lahir saat seorang teman datang ke lorong dan mengajak untuk menghadiri malam takziah seorang kawan di lorong sebelah yang meninggal karena obat-obatan terlarang. Sehingga lagu itu menjadi serupa pengingat bahwa sudah jatuh korban karena kebiasaan buruk tersebut.
Selain berlatarbelakang peristiwa yang terjadi di Lorong Ceria, album Hari Bersama juga serupa buku catatan harian yang berisi kisah-kisah yang melibatkan banyak orang yang pernah dan masih sering bergaul di Lorong Ceria. Dan nama-nama tersebut, meski tak semua tertera dalam album tapi yang pasti mereka terlibat jauh dalam berbagai proses dalam album ini. Mulai dari artwork album, distribusi tiket Konser Hari Bersama hingga pembuatan merchandise.
Dari Lorong Ceria, Firstmoon menemukan etos independen yang sejati. Etos yang mengedepankan kerja-kerja kolektif tanpa perlu tergantung terhadap dominasi siapa pun. Dan lahirnya Ceria Records, record label yang merilis album Hari Bersama, saya kira lahir karena etos ini. Dengan bernaung dibawah label yang lahir atas inisiasi bersama, akan mudah memastikan bahwa karya diciptakan untuk kepuasan bersama.
Soal cerita dibalik lahirnya Ceria Records, Chapung menceritakan bahwa awalnya ia bertanya kepada semua personil Firstmoon soal label mana yang akan merilis album Hari Bersama. Maklum beberapa waktu lalu beberapa label lokal telah menawarkan diri untuk merilis album perdana Firstmoon tersebut. Namun pihak Firstmoon memilih untuk merilis sendiri karya mereka tersebut.
Dari sana, Chapung mengusulkan untuk menginisiasi label record sendiri untuk menaungi tdak hanya Firstmoon tapi band apa saja di Lorong Ceria yang hendak merilis album. Apalagi memang di lorong tersebut banyak teman-teman yang ngeband dan lintas genre. Ide ini langsung disambut baik tidak hanya oleh Firstmoon tapi juga oleh teman-teman lain di Lorong Ceria. Meski demikian, Ceria Records tidak menutup diri untuk merilis karya dari teman-teman diluar Lorong Ceria selama karya tersebut telah melalui proses seleksi yang ketat.
“Harapannya, melalui Hari Bersama ini, tidak hanya bersama teman-teman di Ceria tapi lebih jauh bersama teman-teman skena di Makassar bisa lihat bahwa sejatinya nisa jaki buat (red:album) dengan kerja kolektif seperti ini,” harap Chapung menutup percakapan tentang Ceria Records.
Dan atas semua pelajaran, pengalaman dan hari-hari bersama di Lorong Ceria, Firstmoon memang mendedikasikan album Hari Bersama sepenuhnya untuk Lorong Ceria dan siapa saja yang menambat cerita di lorong kecil itu.
...
Malam hendak menua dan sisa-sisa gerimis hujan masih terasa saat wawancara berakhir. Saya lalu memilih bergabung bersama semua personel Firstmoon dan beberapa teman lain di depan Prolog Building. Sambil menikmati hidangan ubi goreng yang diselingi canda tawa, pembahasan teknis mengenai Konser Hari Bersama yang saat itu tinggal menghitung hari dimulai bersama-sama, dan siapa saja boleh memberi pendapat. Selang beberapa saat, saya pamit pulang dengan senyum bangga karena orang-orang di kota ini selalu punya caranya sendiri untuk tetap menjadi waras.
Selamat Firstmoon. Selamat Lorong Ceria.
Makassar, 5 Februari 2018
12:31
Foto oleh Feby Ardiatri Pasangka
Memorabilia Trip di Lorong Ceria, Agustus 2025



Komentar
Posting Komentar