Mengalahkan Pak Nasir

Jika mesti menganugerahkan live time achiement untuk salah satu dosen di FISIP atau bahkan se Universitas Bosowa, maka saya haqqul yaqiin nama Pak Nasir akan berada di urutan paling atas. Bayangkan, beliau sudah menjadi dosen di Universitas 45 sejak tahun 80-an dan masih enerjik hingga kini. Meski tampakannya kurus, tapi staminanya tetap terjaga di usianya yang sudah menginjak kepala enam. Ia bahkan masih rutin bermain tenis lapangan.

Soal jabatan di fakultas, jangan ditanya. Kalau tak salah Semua struktur sudah pernah ia tempati. Kecuali dekan mungkin. Yang terbaru, beliau dipercaya sebagai Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Negara, setelah sebelumnya selama 6 tahun menjabat sebagai Wakil Dekan I yang mengurusi soal akademik.

Nah soal akademik ini, bapak yang bernama asli Nasir Tompo a.k.a Nato hehehe ini punya perspektif yang sederhana. Ndak rumit seperti jalanan Makassar di pagi hari. “Pokoknya saya sederhana ji Pak Bobhy, sering ko datang di kampus, beri pelayanan yang terbaik untuk mahasiswa.” Kalimat ini entah sudah berapa kali beliau ulangi. Khususnya saat kami berdua terlibat percakapan dua mata. 

Saya memang sering sekali meladeni beliau. Tidak hanya untuk membahas hal-hal serius seperti soal akademik, tapi kami terlibat dalam urusan percandaan duniawi. Saya tidak sungkan gesture aneh atau melayangkan ucapan bernada canda, meski usia kami terpaut jauh. Tapi begitulah cara saya membengun kedekatan dengan sang fenomenal satu ini. Sebegitu fenomenalnya alena beliau ini, saat namanya disebut waktu pelantikan pejabat universitas kemarin, sontak se-auditorium mengelukan nato..nato…nato!!! seperti koor massal para serigala militia menyambut erangan Arian 13 hahahahaha. Sebaliknya, yang dielukan karena sadar panggung, lalu melempar senyum khasnya sambil melambaikan tangan a la Miss Universe dari Djibouti Hahaha

Oh iya, dengan pengetahuan dan skill yang minim sebenarnya, saya juga sering memberi asistensi ke beliau untuk urusan yang ada hubungannya dengan IT. Kemarin banget misalnya, doski meminta saya membukakan akun SINTA nya setelah ia coba berkali-kali membuka aplikasi SINTA yang sudah lama bersemayam di gawai pintarnya. Saya lalu membuka akun SINTA beliau dari browser di gawai saya. Lalu menunjukkan publikasi serta dokumentasi penelitian serta pengabdian kepada masyarakat yang terekam oleh SINTA. Mengetahui itu, ia terseyum lebar dan selanjutnya meminta untuk diajarkan bagaimana detail-detail untuk mengetahui hal tersebut. Dan saya menolak dong. Hahaha…sambil bercanda tentunya.

Begitulah Pak Nasir, meski tak muda lagi tapi untuk urusan dedikasi terhadap Universitas, dia pantas diacungi jempol. Terlepas bahwa ada kekurangan disana sini. Dedikasi itu ia tunjukkan dengan hal-hal yang sederhana. Tidak ribet. Salah satunya dengan selalu datang paling pagi ke kampus. Itu ia lakukan meski di masa pandemi saat orang-orang lebih memilih WFH, termasuk saya. Ia selalu berkelit, siapa yang akan melayani mahasiswa jika tidak ada orang di kampus. Hal yang sempat membuat saya jengkel sesungguhnya. Bukankah era sudah maju dan semuanya bisa diselesaikan secara virtual dan digital. Paling tidak begitu yang saya lakukan. Dan semuanya berjalan cukup baik. Tapi beliau tetap keukeh dengan pendekatan harus ada di tempat.

Tapi kemarin pagi, ia terperangah, kaget lalu tertawa keras saat saya berjumpa di selasar fakultas. “Barusannnya ini ada yang lombaika ke kampus. Seumur-umur saya kenalki kayanya ini mi kali pertama kita lombaika,” ujar beliau sambil memberi rangkulan manis yang lalu mengingatkan saya pada almarhum bapak. Sambil berlalu menuju lift, saya berujar “Itu ji memang obsesi ku jadi pejabat. Kalahi ki.” Lalu saya tertawa lebar sambil memasuki lift yang terbuka pelan. Dari dalam lift saya masih mendengar Mr. Nato membalas dengan tawanya. Sehat terus ki Pak Nasir.

Belia Pagi

Lantai 7 Unibos, 26 Juli 2022

Komentar

Postingan Populer