Lembaga Sensor Mars dan Hari-Hari Dramatis Menuju Panggung Sebenarnya
Sekitar awal Juli kemarin, Radhit mengajak bandnya kakak maha bisa tampil di acara Pameran di Kelas pada 22 Juli. Kegiatan ini biasanya berisi pameran dan pementasan project beberapa mata kuliah selama semester ganjil di HI Unibos. Entah sejak kapan, mahasiswa menyingkatnya menjadi Pamdikel. Singkatan yang tak terlalu senang saya dengar sebenarnya.
Ajakan Om Radhit segera saya sampaikan ke kakak maha. Iya sangat excited dengan ajakan tersebut. Tapi belum langsung ia iyakan karena harus menunggu kepastian apakah gitarisnya, si Faras, bisa dan diizinkan oleh sekolah untuk main di hari pelaksanaan kegiatan yang sepertinya sudah masuk masa sekolah. Itu artinya, ia sudah harus masuk asrama. Namun tak berapa lama, Faras mengiyakan.
Masalah berikutnya adalah mencari personel additional untuk mengisi bagian vokal dan drum. Jadi setauku, sejak band yang diberi nama Lembaga Sensor Mars (LSM) ini terbentuk mungkin tahun lalu untuk pementasan di sekolah, personil tetapnya hanya kakak maha dan Faras. Sedangkan unit yang lain selalu berganti. Terakhir, saya menonton mereka tampil saat penamatan siswa kelas 9 dan 12 bulan lalu. Saat itu, vokal diisi seorang siswa sekelas sama Faras kalau tak salah dan yang menjadi drummer seorang siswi. Saat itu mereka membawakan dua lagu. Kuning versi Morfem dan lupa yang satunya apa. Jujur, saya sangat menikmati penampilan mereka malam itu. Meski dengan sound ala kadarnya, ada kendala teknis sana sini, tapi bagi saya pensi sekolah ya seperti itu.
Setelah urusan mencari additional dimulai, unit vokal segera teratasi. Suar, yang memang beberapa kali ikut latihan bersama band ini namun selalu enggan diajak serius, akhirnya mengiyakan. Tak lama berselang, mereka juga berhasil menemukan seorang drummer. Menurut kakak, si drummer ditemukan oleh kawan sekelasnya. Kata kakak, si drummer ini sering mengisi drum di gereja. Pantas saja saat latihan pertama mereka, ia sangat atraktif. Banyak variasi yang ia tawarkan.
Namun kurang dari tiga hari menuju pementasan, si drummer mengirim kabar jika ia tak bisa main, Tiba-tiba ia disuruh balik oleh orang tuanya ke kampung halamannya di Kalimantan. Jika tidak segera balik, ancamannya tidak main-main. Ia dilarang ngeband lagi. Sebuah ancaman yang menciutkan nyali bagi mereka yang sudah kadung cinta dengan aktivitas berkesenian ini.
Kabar ini disampaikan Suar ke grup WA keluarga yang berisi semua anggota keluarga minus Rekah. Saat itu kakak maha tidak langsung merespons karena ia masih di sekolah dan tidak boleh membuka HP. Saya lalu ikut putar otak mencari kemungkinan untuk menemukan siapa yang bisa ngisi drum. Saat itu jujur, yang kepikiran langsung Radhit. Tapi saya tidak langsung floorkan ke grup. Saya pikir, mereka mesti belajar menemukan caranya sendiri untuk mengatasi kendala dan masalah yang dihadapi. Bukankah orang tuanya harusnya seperti itu? Hahaha.
Dua hari sebelum hari H, kakak maha akhirnya menemukan pengganti drummer. Kalau tak salah, si drummer ini adalah kakak teman mereka. Tapi ia minta untuk latihan minimal sekali. Mereka lalu janjian untuk latihan pukul 2 siang di studio musik langganan yang terletak di bilangan Jalan Racing Centre. Suar juga ikut kesana setelah pulang sekolah. Beberapa saat setelah mereka tiba di studio, tiba-tiba ada panggilan dari WA group keluarga. Saat itu saya sedang menguji proposal mahasiswa. Saya lalu keluar ruangan untuk mengangkat telepon. Di ujung telpon sudah ada kakak maha dan ibunya yang sedang berada di rumah. Maha mengabarkan jika si drummer tak bisa datang. Entah apa alasannya. Saya menangkap kepanikan kakak. Maklum ini panggung pertama mereka di luar sekolah. Jalan keluar pamungkas yang saya simpan untuk jaga-jaga akhirnya dikeluarkan. “Nanti saya coba tanya Radhit untuk main,” tawar saya sekaligus menutup percakapan. Ibunya lalu meminta mereka segera balik jika latihan selesai.
Ketika kembali ke ruangan ujian, saya langsung memberi kabar ke Radhit kalau maha belum menemukan drummer. Radhit langsung menawarkan diri sebelum saya memintanya. Ia minta dikirimi judul-judul lagu apa saja yang akan dimainkan. Beberapa saat kemudian, kakak maha mengirimkan setlist. Hanya dua lagu. Kuning versi Morfem yang memang sudah sering mereka mainkan serta Langit Tak Seharusnya Biru milik The Jansen. Setelah saya mengirimkan setlist itu, Radhit minta kalau bisa ditambah dan ia khusus minta ada salah satu lagu Oasis.
Awalnya saya pikir masalah sudah selesai. Tinggal menunggu penampilan kakak. Tapi pagi-pagi beberapa jam sebelum panggung, Radhit memberi kabar jika ia tiba-tiba kurang enak badan dan dengan kondisi seperti itu ia ragu bisa ngisi drum. Meski bukan kabar baik, saya mesti tetap mengabarkannya ke kakak. Kaka maha yang sedang di depan tivi langsung nampak kembali panik saat kabar itu saya sampaikan. Saya minta mereka siap-siap dengan format akustik. Untuk band baru dan skill masih seadanya, tentu tidak mudah untuk segera merubah format. Tapi saya bilang berdoa saja semoga Om Radhit bisa fit menjelang penampilan mereka.
Setelah shalat asar, saya bersama semua personel band menuju Nipah Park tempat Pameran Kelas dilaksanakan. Kami tiba sekitar pukul 5 sore. Dan langsung bertemu kabar baik. Radhit sudah lumayan fit dan bersedia mengisi drum. Betapa gembiranya anak-anak mengetahui kabar itu. Setelah shalat magrib, LSM dipanggil naik panggung oleh MC dan selanjutnya adalah sejarah. Kali pertama band ini akhirnya bisa manggung di stage yang benar-benar ada panggungnya. Begitu kata kakak maha setelah panggung yang saya yakin tak akan terlupakan itu. Selain dua lagu diatas, LSM juga membawakan Disarankan di Bandung dan Wonderwall yang menutup penampilan dengan manis.
Tulisan ini untuk mengingatkan saja cerita hari itu. Agar semua terekam dan tak pernah mati. Maju terus Lembaga Sensor Mars!
Zulkhair Burhan
Lantai 7 UNIBOS
29 Juli 2026



Kutebak-tebak 10 tahun yang akan datang, Lembaga Sensor Mars bakalan jadi band besar sih 😁
BalasHapus