ASA : Belajar itu Tentang Menemukan Dirimu, Lebih Dahulu
“Sejarah dunia bisa jadi hanya ditulis oleh para pemenang, namun sejarah hidupmu, kau yang harus menulisnya.” Begitu Jati dan Asa membuka presentasi project belajarnya di depan orang tua, guru dan teman-temannya.
Pemandangan seperti itu dalam dunia pendidikan hari ini bukanlah hal baru. Project-based learning (PBL) menjadi salah satu metode yang dikembangkan banyak sekolah untuk mengidentifikasi ketertarikan, minat, dan cara belajar anak. Project based learning dalam banyak penelitian dianggap mampu memfasilitasi ragam kecerdasan anak sehingga tepat jika digunakan sebagai pendekatan belajar di sekolah.
Kurikulum Merdeka yang dikenalkan sejak tahun 2021 dengan pendekatan Project Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) adalah terjemahan lain dari Project Based Learning ini. Intinya, dalam proses belajarnya, kegiatan pembelajaran berpusat pada anak. Sayangnya, eksekusi di lapangan tidak semulus idenya.
Nah, jika ingin melihat bagaimana PBL berjalan sesuai aspek ideasionalnya, siswa, guru dan orang tua mesti menonton film ini. Ide cerita utama dalam film ini sudah pasti bukan hal baru, namun saya harus bilang bahwa pengembangan cerita yang mengambil project belajar sebagai corong ceritanya memberi perhatian lebih besar bagi saya yang menggunakan metode ini dalam menjalankan proses belajar maha di rumah, juga akan diterapkan untuk anak-anak di PKBM Sekolah Jenny.
Dalam film berjudul Aku Sebelum Aku karya Gina S. Noer ini, aplikasi Project-Based Learning sangat ideal. Mereka diberi kebebasan menentukan projectnya, projectnya sangat dekat dengan diri mereka dan menjawab masalah yang membuat mereka resah, bingung, dan marah. Sejatinya, itulah tujuan belajar.
Asa dan Jati memilih mendokumentasikan keluarga mereka. Asa yang menginisiasi, tapi Jati yang awalnya hanya ikut membantu, ternyata menemukan lebih banyak pengetahuan baru tentang keluarganya yang selama ini menjadi pangkal kenapa hubungannya dengan ayahnya tidak bisa ia uraikan dengan benar. Dalam pembuatan projectnya, gurunya sama sekali menarik diri. Mereka betul-betul hanya bertindak sebagai fasilitator dan memberi bantuan jika murid bertanya atau mengalami kendala. Tidak ada intervensi, sama sekali.
Dalam kenyataannya, PBL yang dilakukan di banyak sekolah, apalagi P5, sangat diintervensi oleh guru juga orang tua. Standarnya bahkan sudah ditentukan. Tidak ada kemerdekaan di sana. Padahal, sekali lagi, PBL mengutamakan proses belajar anak yang menyentuh langsung diri dan kehidupannya. PBL ingin menunjukkan bahwa yang kamu pelajari, relevan dan penting untuk dirimu, sekarang. Tanpa perlu menunggu masa depan.
Asa dan Jati, menunjukkannya di film ini. Mereka belajar, mereka antusias, karena mereka sadari bahwa yang sedang mereka kerjakan bermanfaat dan, sekali lagi, penting untuk diri mereka sendiri.
Perjalanan belajar mereka melampaui pameran karya atau diseminasi pengetahuan semata. Project mereka tidak hanya selesai dan dikemas dengan ciamik, tetapi juga berhasil mengurai benang kusut hubungan Jati dan ayahnya dan cerita keluarga ayahnya yang dipenuhi luka dan trauma.
Asa akhirnya tahu bahwa dia bukan anak kandung, Jati akhirnya mencoba membantu ayahnya untuk berdamai dengan masa lalu karena menjadi korban didikan orang tua turun-temurun yang hanya tahu mendidik dengan satu bahasa, yaitu bahasa kekerasan.
Ayah Jati yang tidak ingin seperti ayahnya justru memberi luka yang sama dengan cara berbeda pada Jati. Semua yang dilakukan Jati diterima sebagai sesuatu yang salah dan tidak seharusnya.
Jati bingung dan marah.
Selain, menyorot project belajar Asa dan Jati, film ini juga menyentuh saya sebagai seorang ibu. Menjadi ibu dengan dua lelaki remaja yang sedang tumbuh, saya melihat wajah Maha dan Suar di wajah Jati beberapa kali. Walau kami kerap berbicara, membuka ruang dialog, melibatkan mereka dalam keputusan, langkah yang kami ambil tidak selalu mereka setujui atau bisa mereka terima dengan baik. Mereka kadang menunjukkan wajah kesal, ekspresi tidak senang, lalu saya dan bapak komrad mengakhiri malam dengan helaan napas panjang dan pertanyaan “salahki tadi kah?” Sebagai orang tua, kami juga kadang kebingungan dan melakukan kesalahan.
Ada benang merah yang cukup penting di antara cerita dua keluarga ini yang muncul di project belajar Asa dan Jati. Keduanya menganggap Jati dan Asa belum dewasa dan belum bisa diajak bicara. Mereka mengulur waktu, menunggu waktu yang tepat, atau menunggu luka sembuh dengan sendirinya. Mereka lupa, yang sedang mereka didik adalah manusia.
Begitulah sebagian orang tua dalam melihat anak, kita kadang menganggap mereka tidak cukup besar untuk didengar atau mendengar. Banyak yang begitu ingin menjadi orang tua yang sempurna, padahal anak-anak butuh orang tua yang jujur yang terus mau belajar.
Hal menarik lainnya adalah film ini menurut saya sangat religius, namun tidak dikemas norak, apalagi memaksakan. Beberapa kali ayat-ayat Al-Qur’an disebut sebagai landasan yang dipakai keluarga ini untuk bersikap dan bertindak. Dan sama sekali tidak sedang memberi kesan menceramahi. Adegan saat mereka belajar agama dengan duduk berdiskusi santai di ruang kelas dan difasilitasi oleh gurunya, menjadi frame yang saya kagumi. “Belajar Al Qur’an bisa loooh sesantai itu,” kata saya. Anak-anak tidak perlu dituntut menghafalnya, namun mereka didorong memahaminya untuk dijadikan pedoman hidup keseharian.
Selain ide dan eksekusi cerita yang menarik, film ini juga memperlihatkan visual yang keren. Didominasi warna-warna ceria dan diselingi tampilan pengambilan video dari kamera Asa dan Jati.
Sebuah tontonan akhir pekan yang bisa jadi refleksi untuk orang tua dan guru yang sedang menemani anak-anak tumbuh.
Ibu Nita, 19 Juli 2026


Komentar
Posting Komentar