Cerita Lucu yang Tak Lucu

Dapat kabar lucu (namun ke sini-sini cukup mengganggu) pagi ini, tentang maha. "Harusnya maha bisa juara tapi terlalu banyak izinnya". Awalnya saya tertawa mendengar seorang teman yang juga anaknya sekelas dengan maha mengabarkan itu pada saya. Begitu, dengan jelas dikatakan gurunya kemarin di depan seluruh teman-temannya setelah menyadari bahwa sejak Senin kemarin, maha tidak ke sekolah lagi. 

Jadi, sejak maha sekolah, kami_bapakibunya_, bersepakat bahwa ruang sekolah adalah tempat bermain baru, t4 menemukan pengalaman baru, menjumpai ragam teman yang akan jadi hal besar untuk dia miliki kelak. Telah hatam baginya, bahwa ilmu yang di didapatkan kelas bukanlah kebenaran mutlak, dan wajib mendiskusikannya kembali di rumah dengan kami. 

Telah ia pahami, bahwa guru dan sekolah bukanlah satu-satunya pusat ilmu, karena belajar sesungguhnya bisa dimana saja. Makanya, jika ia lelah, kami mengaminkannya untuk bolos sekolah. Bahkan bisa hingga beberapa hari.

Karena Maha punya kemampuan menangkap informasi yang cepat dan bisa dibilang di atas rata-rata, nilainya tidak pernah mengecewakan. Bahkan selalu jauh diatas ekspektasi. Tapi, hal tersebut tidak pernah kami jadikan ukuran. Nilai dan peringkat adalah bonus yang ia dapatkan atas usahanya, dan maha cukup memahaminya.

Namun, berada di dalam sistem pendidikan dasar kita yang enggan berbenah, yang mengutamakan kompetisi, dan terbata-bata membaca kecerdasan personal anak, khususnya di sekolah-sekolah negeri, maha kerap terjebak. Namanya anak-anak, tetap sumringah dan bangga ketika orang bertepuk tangan akan hasil kerjanya. Apalagi,  setiap habis musim ujian orang orang di sekelilingnya sibuk menanyakan nilainya,  menanyakan rangking, seolah hal tersebut adalah tujuannya bersekolah.

Yang menyenangkan karena ia selalu bangga dengan dirinya yang walau tidak berdarah darah belajar khususnya matematika tetap mampu menyelesaikan hasil ulangan dengan maksimal. 

Saya sepakat bahwa semua usaha anak harusnya tidak berujung pada angka semata. Tapi saya juga cukup percaya diri, jika ingin mengukur  kemampuannya dengan angka. Karenanya, saya merasa terganggu dengan kabar di atas. Kenapa tidak berani mengakui bahwa ada anak yang bisa mencapai angka jauh di atas temannya, padahal dia tidak begitu  rajin datang. Mengurangi nilainya, bukanlah hal bijak saya kira. Menambah poin teman yang lebih rajin darinya, itu adalah reward yang pantas. Tapi kalau angka maha masih lebih di atas setelah penambahan poin untuk temannya, mestinya sistem harus mengakui secara berani dan jujur. Mungkin saja maha melewati proses belajar di rumah yang guru-gurunya tidak pernah lihat dan hal tersebut wajib dibicarakan dengan orang tua, siapa tau bisa diadaptasi di sekolah. Saya kan anaknya sukaji diajak bicara. 😎

Saya menulis kabar ini sebelum mengabarkan pada maha. Saya takut, dia menyesali keputusannya untuk tetap santai bersekolah. Atau bisa saja, tulisan ini serupa curcol karena selama ini saya dituding tidak serius menyekolahkan anak. 
Namun diatas semua ini, saya harap maha akan menjawab  seperti biasa "santai mi ibu, dunia ji ini" 

Komentar

Postingan Populer