Stambul Arkipelagia Vol 3, Senja dan Kebahagiaan yang Berlapis

Selasa kemarin (22/9), Reno Bojakrama menghubungi saya via WA. Ia menawari KBJ untuk mengadakan hearing session album baru Orkes Silampukau yang bertajuk Stambul Arkipelagia Vol 3. Anyway, saya tidak tahu persis kapan band berbasis di Surabaya ini mengubah nama dengan menambahkan kata Orkes di depannya. Tawaran Reno tentu langsung saya terima. Ia menawarkan beberapa waktu pelaksanaan, dari tanggal 25 September hingga awal Oktober 2026. Setelah berkonsultasi sama komrad dan memastikan tidak ada agenda lain pada Jumat, 25 September, saya lalu memilih tanggal tersebut untuk mengadakan hearing session tersebut.

Keesokan harinya, Reno mengirimkan materi visual yang bisa digunakan untuk publikasi kegiatan, zine album dan beberapa dokumen lain termasuk MoU yang perlu saya tanda tangani sebagai perwakilan KBJ. Setelah menerima materi visual, saya lalu mengolahnya menjadi poster kegiatan. Seperti yang sudah sudah, hasilnya begitu-begitu saja. Paling tidak saya tidak tergoda untuk menggunakan AI. Sungguh sebuah kebanggaan di era apa-apa pake AI.

Sehari sebelum kegiatan, poster saya bagikan via IG yang langsung direspon oleh Silampukau. Seperti biasa, kalau band yang bersangkutan respon, jumlah views langsung meningkat pesat. Beberapa merespon agak kaget karena pemberitahuannya mendadak. Saya tersenyum saja membacanya. Yang ngikut KBJ dari awal pasti tau kalau tabiat begini sudah berlangsung cukup lama. Untuk brandingan memang nda bagus, tapi kami tipe yang lamban memang. Dan nda mau ji juga bergegas. Hehehe…

Setiap ada kegiatan di KBJ, besar atau kecil, selalu saja ada yang bikin dumba-dumba. Kali ini pun seperti itu. Sejak kamis malam, saya menghubungi Reno menanyakan kapan materi album dikirim. Tapi tak direspon. Jumat pagi hingga menjelang Jumatan, saya kembali menanyakan hal yang sama tapi juga tak mendapat respon dari Reno. Menjelang sore, saya coba menghubungi pihak Silampukau via DM. Alhamdulillah langsung direspon. Reno juga sesaat kemudian merespon via WA. Ternyata materi album sudah dikirim sejak kamis malam via email. Saya lalu mengeceknya. Tapi tak ada. Reno lalu mengirim ulang dan mengirim bukti screenshot. Anehnya, email tersebut tidak muncul di kotak masuk, begitu pula di Spam. Saya coba mengeceknya di Sampah, ternyata email itu ada disana, termasuk yang dikirim sehari sebelumnya. Saya segera memberi kabar ke Reno untuk memastikan email yang ia kirim sudah saya terima. 

Setelah shalat ashar, saya duluan ke KBJ untuk mencetak file zine dan mempersiapkan sesi. Setelah zine beres diprint dan ditempel timbal balik sesuai layout zine ukuran A5, saya lalu membawanya ke tukang fotokopi di luar komplek. Sudah lewat pukul 5 sore, fotokopi zine tak kunjung selesai karena si bapak tukang fotokopinya beberapa kali salah cetak dan harus tambah tinta segala. Saya balik dulu dan memberitahu si bapak nanti akan kembali untuk mengambil hasil kopian. Saya juga membeli kapur tulis berwarna. Saya langsung mau membayar tapi si bapak bilang nanti saja sekalian.

Menjelang pukul 5.30, sesi dengar dimulai. Kali ini tak begitu banyak yang ikut serta. Selain saya sekeluarga minus Rekah, juga ada Ella a.k.a Mamanya Adam, siswa Sekolah Jenny yang sengaja kami ajak. Satu-satunya yang tak saya kenal adalah mas (aduh saya lupa namanya). Ia berasal dari Semarang. Sejak tahun lalu, ia hijrah ke Sulawesi Selatan, tepatnya di Maros untuk sebuah pekerjaan. Sore itu, ia datang mengenakan kaos Silampukau.

Sepuluh materi dalam album baru Silampukau selesai kami dengarkan bersamaan ketika azan Magrib berkumandang. Setelahnya, masing-masing kami menceritakan pengalaman mendengar. Meski secara jumlah kami sedikit, tapi mendengar Silampukau menjelang senja sore itu sungguh sangat syahdu. Kami mengakhiri sesi dengan foto bersama sambil memegang zine yang saya ambil di tengah sesi. Saya senang sekali karena si bapak tukang fotokopi bekerja total untuk zine ini. Ia memotongnya dengan presisi dan menancapkan staples di bagian tengah zine tanpa diinstruksi.

Sore itu, kebahagiaan saya berlapis. Selalu, bahagia itu mestinya sederhana.

Zulkhair Burhan

Moncongloe, 29 September 2026

Sebuah upaya untuk menulis…

Komentar

Postingan Populer